Karena Bumi Kita Hanya Satu
“We only have one world...,We just need to talk together...”,
BEGITULAH Lionel Richie penyanyi kulit hitam bersuara emas melantunkan sendu kegundahan melihat bumi ini. Adakah kita juga merasakan kegundahan di sana? Apakah sejatinya kita lakukan memperingati hari bumi kali ini? Saat itu, pada 1963, senator AS, Gaylord Nelson sangat cemas melihat planet bumi ini. Keprihatinannya berupa rusaknya lingkungan yang kasat mata, seperti air limbah industri, pencemaran udara, maupun sampah di Amerika Serikat. Bertahun-tahun Ia bergerilya dari suatu tempat ke tempat lain berkampanye untuk mengubah pola pikir penduduk Amerika tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan hidup. Yang pada akhirnya sejarah mencatat bahwa pada 22 April 1970, lebih dari 20 juta penduduk Amerika melakukan aksi damai dengan tujuan untuk menekan pemerintah Presiden Kennedy mengedepankan masalah-masalah lingkungan ke dalam agenda politik. Maka sejak itu, 22 April dijadikan Hari Bumi dan diperingati jutaan umat manusia di seluruh dunia.
Bumi Makin Panas
Itu judul sebuah film tahun 70-an. Tapi inilah yang kita hadapi sekarang. Coba lihat fakta berikut. Ketika revolusi industri baru dimulai sekitar 1850, konsentrasi CO2 (salah satu gas primer rumah kaca) hanya 290 ppmv (part million by volume). Tapi pada 2000 (150 tahun kemudian) konsentrasi gas tersebut telah mencapai nilai fantastis, sebesar 350 ppmv. Dari sebuah literatur disebutkan, dengan asumsi pola aktifitas manusia di muka bumi tak berubah, diperkirakan 100 tahun kemudian konsentrasi CO2 menjadi 580 ppmv yang setara dengan kontribusi kenaikan temperatur rata-rata bumi hingga 4,5 derajat Celcius. Tidak hanya anomali cuaca mempengaruhi negara-negara berkembang. Kerancuan pola cuaca juga melanda negara maju seperti Amerika Serikat. Majalah National Geographic Edisi Agustus 2005 pernah menurunkan laporan investigasinya tentang berubahnya pola angin topan karena berubahnya temperatur permukaan Atlantik yang naik Hanya setengah derajat Celcius. Dilaporkan keadaan topan tahun 1985- 1994 hanya separuh dibandingkan dengan topan-topan besar yang menghantam Amerika dari arah Timur pada tahun 1995-2004. Topan-topan besar itu banyak terjadi karena munculnya apa yang disebut dengan Atlantic Multidecadal Oscillation (AMO), yaitu osilasi perubahan arus di Lautan Atlantik. Menurut ilmuwan dari Hurricane Research Division NOAA di Miami, topan pada dasarnya ibarat mesin yang berjalan karena energi panas. Suhu air laut yang hangat mendekati 26,5 derajat Celcius dapat menciptakan topan. Semakin tinggi suhu udara, topan yang timbul pun semakin dahsyat.
Selain aktifitas industri (sebagai penyumbang CO2), penebangan hutan yang tak terkendali merupakan faktor signifikan perubahan ekosistem bumi. Hutan-hutan tropis sebagai paru-paru dunia (penyerap CO2) berubah menjadi hamparan tanah kosong, baik untuk diambil kayunya maupun pembukaan perkebunan industri. Akibatnya, daerah hutan tidak dapat lagi berfungsi sebagai penyeimbang senyawa CO2 di atmosfir, juga tidak mampu menahan air hujan dan akhirnya terjadilah banjir yang sering kita lihat belakangan ini. Dampak program penanaman sawit sebanyak ribuan hektar oleh Pemerintah Aceh nampaknya begitu paradoks dengan program Aceh Green. Di pihak lain penggundulan hutan secara sembunyi-sembunyi ala ninja dilakukan hanya untuk dinikmati segerombolan manusia bernafsu serakah, tidak hanya menyentuh segelintir umat manusia, tapi segala aspek strata ekosistem yang berdampak global. Akibatnya banjir terjadi dimana-mana.
Hari Bumi
Sejak pertama sekali Hari Bumi dikumandangkan pada 22 April 1970 di Amerika sana, banyak kebijakan pemerintah Amerika yang mendorong cikal bakal lahirnya beberapa organisasi lingkungan di dunia. Sebut misalnya UNEP (United Nations Environment Programme) yang dibentuk di Stockholm 2 tahun setelah aksi Tuan Nelson. Atau terbentuknya organisasi “super berani” Greenpeace di Kanada tahun 1971. Tapi sangat disayangkan, ketika Protokol Kyoto dirancang pada Desember 1997 dengan maksud menahan laju emisi gas rumah kaca, Amerika tak meratifikasinya. Surat penolakan dari Gedung Putih pada 13 Maret 2001 terhadap Protokol Kyoto seolah dapat dilihat seperti virus komputer dan antivirusnya. Keduanya berasal dari spesies yang sama, Amerika. Antivirus berupa organisasi-organisasi penyelamat lingkungan yang memang banyak berbasis di Amerika Serikat dan sangat membantu negara-negara berkembang dalam menjaga kelestarian lingungan. Di lain pihak, virus juga berasal dari Amerika, dengan melepaskan gas rumah kaca yang bukan main banyaknya. Alasan Amerika menolak Protokol Kyoto yang tak masuk akal diantaranya adalah mengangap implementasi protokol tersebut akan berpengaruh negatif pada pertumbuhan ekonomi Amerika, serta CO2 menurut undang-undang AS tidak dianggap sebagai bahan pencemar sehingga tidak perlu diatur emisinya secara domestik.
Tentu saja kekecewaan kita terhadap negeri Paman Sam ini tidak harus menyurut semangat Hari Bumi yang telah dicetuskan seorang bernama Nelson yang juga berasal dari negeri sumber kekecewaan. Hingga kini setelah 40 tahun berselang, mungkin tidak semua orang di sini mengetahui apa sebenarnya hakikat Hari Bumi itu sendiri. Kita boleh kecewa terhadap pemangku kebijakan atau juga pada diri kita sendiri. Tapi yang namanya pemanasan global tidak berhenti hanya karena kita sudah memahami dan insyaf akan kebodohan yang telah kita buat.
Kemarahan alam tidak berhenti dan harus dibayar mahal karena kekeliruan yang telah terjadi. Mengambil hikmah dan memperbaiki visi untuk menjaga kelestarian alam harus dimulai sejak sekarang plus dengan predikat perencanaan “high-priority-level” dalam menjaga bumi. Karena kita punya hanya satu bumi, sekali lagi, We only have one world..., We just need to talk together.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar