Dalam sebuah ayat, kita diberitahu bahwa gunung-gunung tidaklah diam sebagaimana yang tampak, akan tetapi mereka terus-menerus bergerak.
"Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal dia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Al Qur'an, 27:88)
Gerakan gunung-gunung ini disebabkan oleh gerakan kerak bumi tempat mereka berada. Kerak bumi ini seperti mengapung di atas lapisan magma yang lebih rapat. Pada awal abad ke-20, untuk pertama kalinya dalam sejarah, seorang ilmuwan Jerman bernama Alfred Wegener mengemukakan bahwa benua-benua pada permukaan bumi menyatu pada masa-masa awal bumi, namun kemudian bergeser ke arah yang berbeda-beda sehingga terpisah ketika mereka bergerak saling menjauhi.
Para ahli geologi memahami kebenaran pernyataan Wegener baru pada tahun 1980, yakni 50 tahun setelah kematiannya. Sebagaimana pernah dikemukakan oleh Wegener dalam sebuah tulisan yang terbit tahun 1915, sekitar 500 juta tahun lalu seluruh tanah daratan yang ada di permukaan bumi awalnya adalah satu kesatuan yang dinamakan Pangaea. Daratan ini terletak di kutub selatan.
Sekitar 180 juta tahun lalu, Pangaea terbelah menjadi dua bagian yang masing-masingnya bergerak ke arah yang berbeda. Salah satu daratan atau benua raksasa ini adalah Gondwana, yang meliputi Afrika, Australia, Antartika dan India. Benua raksasa kedua adalah Laurasia, yang terdiri dari Eropa, Amerika Utara dan Asia, kecuali India. Selama 150 tahun setelah pemisahan ini, Gondwana dan Laurasia terbagi menjadi daratan-daratan yang lebih kecil.
Benua-benua yang terbentuk menyusul terbelahnya Pangaea telah bergerak pada permukaan Bumi secara terus-menerus sejauh beberapa sentimeter per tahun. Peristiwa ini juga menyebabkan perubahan perbandingan luas antara wilayah daratan dan lautan di Bumi.
Pergerakan kerak Bumi ini diketemukan setelah penelitian geologi yang dilakukan di awal abad ke-20. Para ilmuwan menjelaskan peristiwa ini sebagaimana berikut:
Kerak dan bagian terluar dari magma, dengan ketebalan sekitar 100 km, terbagi atas lapisan-lapisan yang disebut lempengan. Terdapat enam lempengan utama, dan beberapa lempengan kecil. Menurut teori yang disebut lempeng tektonik, lempengan-lempengan ini bergerak pada permukaan bumi, membawa benua dan dasar lautan bersamanya. Pergerakan benua telah diukur dan berkecepatan 1 hingga 5 cm per tahun. Lempengan-lempengan tersebut terus-menerus bergerak, dan menghasilkan perubahan pada geografi bumi secara perlahan. Setiap tahun, misalnya, Samudera Atlantic menjadi sedikit lebih lebar. (Carolyn Sheets, Robert Gardner, Samuel F. Howe; General Science, Allyn and Bacon Inc. Newton, Massachusetts, 1985, s. 30)
Ada hal sangat penting yang perlu dikemukakan di sini: dalam ayat tersebut Allah telah menyebut tentang gerakan gunung sebagaimana mengapungnya perjalanan awan. (Kini, Ilmuwan modern juga menggunakan istilah "continental drift" atau "gerakan mengapung dari benua" untuk gerakan ini. (National Geographic Society, Powers of Nature, Washington D.C., 1978, s.12-13)
Tidak dipertanyakan lagi, adalah salah satu kejaiban Al Qur’an bahwa fakta ilmiah ini, yang baru-baru saja ditemukan oleh para ilmuwan, telah dinyatakan dalam Al Qur’an.
Senin, 06 Desember 2010
Lautan yang Tidak Bercampur Satu Sama Lain
Salah satu di antara sekian sifat lautan yang baru-baru ini ditemukan adalah berkaitan dengan ayat Al Qur’an sebagai berikut:
"Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tak dapat dilampaui oleh masing-masing." (Al Qur'an, 55:19-20)
Sifat lautan yang saling bertemu, akan tetapi tidak bercampur satu sama lain ini telah ditemukan oleh para ahli kelautan baru-baru ini. Dikarenakan gaya fisika yang dinamakan "tegangan permukaan", air dari laut-laut yang saling bersebelahan tidak menyatu. Akibat adanya perbedaan masa jenis, tegangan permukaan mencegah lautan dari bercampur satu sama lain, seolah terdapat dinding tipis yang memisahkan mereka. (Davis, Richard A., Jr. 1972, Principles of Oceanography, Don Mills, Ontario, Addison-Wesley Publishing, s. 92-93.)
Sisi menarik dari hal ini adalah bahwa pada masa ketika manusia tidak memiliki pengetahuan apapun mengenai fisika, tegangan permukaan, ataupun ilmu kelautan, hal ini dinyatakan dalam Al Qur’an.
"Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tak dapat dilampaui oleh masing-masing." (Al Qur'an, 55:19-20)
Sifat lautan yang saling bertemu, akan tetapi tidak bercampur satu sama lain ini telah ditemukan oleh para ahli kelautan baru-baru ini. Dikarenakan gaya fisika yang dinamakan "tegangan permukaan", air dari laut-laut yang saling bersebelahan tidak menyatu. Akibat adanya perbedaan masa jenis, tegangan permukaan mencegah lautan dari bercampur satu sama lain, seolah terdapat dinding tipis yang memisahkan mereka. (Davis, Richard A., Jr. 1972, Principles of Oceanography, Don Mills, Ontario, Addison-Wesley Publishing, s. 92-93.)
Sisi menarik dari hal ini adalah bahwa pada masa ketika manusia tidak memiliki pengetahuan apapun mengenai fisika, tegangan permukaan, ataupun ilmu kelautan, hal ini dinyatakan dalam Al Qur’an.
Angin yang Mengawinkan
Dalam sebuah ayat Al Qur’an disebutkan sifat angin yang mengawinkan dan terbentuknya hujan karenanya.
"Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan dan Kami turunkan hujan dari langit lalu Kami beri minum kamu dengan air itu dan sekali kali bukanlah kamu yang menyimpannya." (Al Qur'an, 15:22)
Dalam ayat ini ditekankan bahwa fase pertama dalam pembentukan hujan adalah angin. Hingga awal abad ke 20, satu-satunya hubungan antara angin dan hujan yang diketahui hanyalah bahwa angin yang menggerakkan awan. Namun penemuan ilmu meteorologi modern telah menunjukkan peran "mengawinkan" dari angin dalam pembentukan hujan.
Fungsi mengawinkan dari angin ini terjadi sebagaimana berikut:
Di atas permukaan laut dan samudera, gelembung udara yang tak terhitung jumlahnya terbentuk akibat pembentukan buih. Pada saat gelembung-gelembung ini pecah, ribuan partikel kecil dengan diameter seperseratus milimeter, terlempar ke udara. Partikel-partikel ini, yang dikenal sebagai aerosol, bercampur dengan debu daratan yang terbawa oleh angin dan selanjutnya terbawa ke lapisan atas atmosfer. . Partikel-partikel ini dibawa naik lebih tinggi ke atas oleh angin dan bertemu dengan uap air di sana. Uap air mengembun di sekitar partikel-partikel ini dan berubah menjadi butiran-butiran air. Butiran-butiran air ini mula-mula berkumpul dan membentuk awan dan kemudian jatuh ke Bumi dalam bentuk hujan.
Sebagaimana terlihat, angin “mengawinkan” uap air yang melayang di udara dengan partikel-partikel yang di bawanya dari laut dan akhirnya membantu pembentukan awan hujan.
Apabila angin tidak memiliki sifat ini, butiran-butiran air di atmosfer bagian atas tidak akan pernah terbentuk dan hujanpun tidak akan pernah terjadi.
Hal terpenting di sini adalah bahwa peran utama dari angin dalam pembentukan hujan telah dinyatakan berabad-abad yang lalu dalam sebuah ayat Al Qur’an, pada saat orang hanya mengetahui sedikit saja tentang fenomena alam…
"Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan dan Kami turunkan hujan dari langit lalu Kami beri minum kamu dengan air itu dan sekali kali bukanlah kamu yang menyimpannya." (Al Qur'an, 15:22)
Dalam ayat ini ditekankan bahwa fase pertama dalam pembentukan hujan adalah angin. Hingga awal abad ke 20, satu-satunya hubungan antara angin dan hujan yang diketahui hanyalah bahwa angin yang menggerakkan awan. Namun penemuan ilmu meteorologi modern telah menunjukkan peran "mengawinkan" dari angin dalam pembentukan hujan.
Fungsi mengawinkan dari angin ini terjadi sebagaimana berikut:
Di atas permukaan laut dan samudera, gelembung udara yang tak terhitung jumlahnya terbentuk akibat pembentukan buih. Pada saat gelembung-gelembung ini pecah, ribuan partikel kecil dengan diameter seperseratus milimeter, terlempar ke udara. Partikel-partikel ini, yang dikenal sebagai aerosol, bercampur dengan debu daratan yang terbawa oleh angin dan selanjutnya terbawa ke lapisan atas atmosfer. . Partikel-partikel ini dibawa naik lebih tinggi ke atas oleh angin dan bertemu dengan uap air di sana. Uap air mengembun di sekitar partikel-partikel ini dan berubah menjadi butiran-butiran air. Butiran-butiran air ini mula-mula berkumpul dan membentuk awan dan kemudian jatuh ke Bumi dalam bentuk hujan.
Sebagaimana terlihat, angin “mengawinkan” uap air yang melayang di udara dengan partikel-partikel yang di bawanya dari laut dan akhirnya membantu pembentukan awan hujan.
Apabila angin tidak memiliki sifat ini, butiran-butiran air di atmosfer bagian atas tidak akan pernah terbentuk dan hujanpun tidak akan pernah terjadi.
Hal terpenting di sini adalah bahwa peran utama dari angin dalam pembentukan hujan telah dinyatakan berabad-abad yang lalu dalam sebuah ayat Al Qur’an, pada saat orang hanya mengetahui sedikit saja tentang fenomena alam…
Fungsi Gunung

Al Qur’an mengarahkan perhatian kita pada fungsi geologis penting dari gunung.
"Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka..." (Al Qur'an, 21:31)
Sebagaimana terlihat, dinyatakan dalam ayat tersebut bahwa gunung-gunung berfungsi mencegah goncangan di permukaan bumi.
Kenyataan ini tidaklah diketahui oleh siapapun di masa ketika Al Qur’an diturunkan. Nyatanya, hal ini baru saja terungkap sebagai hasil penemuan geologi modern.
Menurut penemuan ini, gunung-gunung muncul sebagai hasil pergerakan dan tumbukan dari lempengan-lempengan raksasa yang membentuk kerak bumi. Ketika dua lempengan bertumbukan, lempengan yang lebih kuat menyelip di bawah lempengan yang satunya, sementara yang di atas melipat dan membentuk dataran tinggi dan gunung. Lapisan bawah bergerak di bawah permukaan dan membentuk perpanjangan yang dalam ke bawah. Ini berarti gunung mempunyai bagian yang menghujam jauh ke bawah yang tak kalah besarnya dengan yang tampak di permukaan bumi.
Dalam tulisan ilmiah, struktur gunung digambarkan sebagai berikut:
Pada bagian benua yang lebih tebal, seperti pada jajaran pegunungan, kerak bumi akan terbenam lebih dalam ke dalam lapisan magma. (General Science, Carolyn Sheets, Robert Gardner, Samuel F. Howe; Allyn and Bacon Inc. Newton, Massachusetts, 1985, s. 305)
Dalam sebuah ayat, peran gunung seperti ini diungkapkan melalui sebuah perumpamaan sebagai "pasak":
"Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?, dan gunung-gunung sebagai pasak?" (Al Qur'an, 78:6-7)
Dengan kata lain, gunung-gunung menggenggam lempengan-lempengan kerak bumi dengan memanjang ke atas dan ke bawah permukaan bumi pada titik-titik pertemuan lempengan-lempengan ini. Dengan cara ini, mereka memancangkan kerak bumi dan mencegahnya dari terombang-ambing di atas lapisan magma atau di antara lempengan-lempengannya. Singkatnya, kita dapat menyamakan gunung dengan paku yang menjadikan lembaran-lembaran kayu tetap menyatu.
Fungsi pemancangan dari gunung dijelaskan dalam tulisan ilmiah dengan istilah "isostasi". Isostasi bermakna sebagai berikut:
Isostasi: kesetimbangan dalam kerak bumi yang terjaga oleh aliran materi bebatuan di bawah permukaan akibat tekanan gravitasi. (Webster's New Twentieth Century Dictionary, 2. edition "Isostasy", New York, s. 975)
Peran penting gunung yang ditemukan oleh ilmu geologi modern dan penelitian gempa, telah dinyatakan dalam Al Qur’an berabad-abad lampau sebagai suatu bukti Hikmah Maha Agung dalam ciptaan Allah.
"Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka..." (Al Qur'an, 21:31)
Relativitas Waktu

Kini, relativitas waktu adalah fakta yang terbukti secara ilmiah. Hal ini telah diungkapkan melalui teori relativitas waktu Einstein di tahun-tahun awal abad ke-20. Sebelumnya, manusia belumlah mengetahui bahwa waktu adalah sebuah konsep yang relatif, dan waktu dapat berubah tergantung keadaannya. Ilmuwan besar, Albert Einstein, secara terbuka membuktikan fakta ini dengan teori relativitas. Ia menjelaskan bahwa waktu ditentukan oleh massa dan kecepatan. Dalam sejarah manusia, tak seorang pun mampu mengungkapkan fakta ini dengan jelas sebelumnya.
Tapi ada perkecualian; Al Qur'an telah berisi informasi tentang waktu yang bersifat relatif! Sejumlah ayat yang mengulas hal ini berbunyi:
"Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu menurut perhitunganmu." (Al Qur'an, 22:47)
"Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu." (Al Qur'an, 32:5)
"Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun." (Al Qur'an, 70:4)
Dalam sejumlah ayat disebutkan bahwa manusia merasakan waktu secara berbeda, dan bahwa terkadang manusia dapat merasakan waktu sangat singkat sebagai sesuatu yang lama:
"Allah bertanya: 'Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?' Mereka menjawab: 'Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.' Allah berfirman: 'Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui'." (Al Qur'an, 23:122-114)
Fakta bahwa relativitas waktu disebutkan dengan sangat jelas dalam Al Qur'an, yang mulai diturunkan pada tahun 610 M, adalah bukti lain bahwa Al Qur'an adalah Kitab Suci.
Minggu, 28 November 2010
10 PANTAI TERINDAH DI DUNIA
Berikut ini daftar 10 PANTAI TERINDAH DI DUNIA yang mungkin keindahannya jarang di jumpai di negara-negara lain. dan semoga ini bisa menjadi referensi sebagai tempat berlibur.
1. Fernando de Noronha
10 PANTAI TERINDAH DI DUNIA
Mungkin pantai terindah di dunia ini yang dimana hanya segelintir orang saja yang tau. Salah satu Unesco World Heritage Site ini merupakan “the most beautiful marine park in the World”
2. Maldives
10 PANTAI TERINDAH DI DUNIA
The best CALM BEACHES in the world. Indah, tenang, modern dan secluded. Kombinasi yang amat jarang ditemukan di pantai2 di dunia ini. Selamat datang di Maldives
3. Anguilla
Peringkat pertama di top 10 World Best beaches of 2005 Discovery Channel Travel and Adventure tentunya bukan cuma omong kosong. Anguilla punya segalanya. Ketenangan, kebersihan, modern, lengkap dengan kehidupan pulau kecilnya yang benar-benar “carribean”
4. Boracay, filipina

Pantai terindah, dan terbiru di lautan pacific
5. Horseshoe Bay
Bermuda merupakan salah satu tempat termahal untuk berwisata pantai di dunia ini. Tapi itu tidak menghalangi ribuan turis datang mengunjungi pulau ini setiap tahunnya. Cuaca yang bersahabat, calm water and waves, crystal clear water, dan pasir pinknya Horseshoey bay nyaris tak ada tandingannya di belahan planet ini. The best beach and island in Carribean!
6. Kondoi, Coral Beach Okinawa, Jepang
Okinawa. Kepulauan teraman di dunia ini. Pintu rumah2 penduduknya saja tidak pernah terkunci. 3 dari 10 orang tertua di dunia ini tinggal di kepulauan ini. Hasil dari suasana pedesaan jepang yang khas berpadu dengan pantai-pantai indah? Magnificent!Walau mahal.
7. Lanikai Beach, Hawaii
Pantai ini tidak begitu besar, tapi merupakan pantai dengan air terjernih dan terbiru di hawaii. Lengkap dengan pemandangan dua pulau kecil yang bernama Mokuluas di kejauhan. Selamat tinggal waikiki!
8. Mnmbe Lodge, Tanzania
Pantai terindah di Benua Africa, walau tidak terletak di Africa mainland. Perjalanan ke zanzibar tidaklah mudah, tapi jika anda telah samapai di pantai ini, semuanya serasa menjadi berharga.
9. Tulum Beach, Mexico
10 PANTAI TERINDAH DI DUNIA
Salah satu resort pertama yang ada di Mexico. Mungkin dari ratusan tahun sebelumnya juga sudah dipakai oleh Bangsa Maya sebagai resort. Pernah bermimpi berenang di Pantai yang berpasir putih, tenang dan relax diiringi oleh Background piramid-piramid mayan? Selamat datang di mimpimu
10. Whitehaven, Australia
7 Kilometer Pantai Pasir putih terbersih dan salah satu yang paling terisolir di dunia tentunya sudah pasti bisa mencukupi kebutuhan relaxing kita
bukan? Kacamata hitam adalah keharusan di pantai ini saking putihnya pasir pantai ini.
1. Fernando de Noronha
10 PANTAI TERINDAH DI DUNIA
Mungkin pantai terindah di dunia ini yang dimana hanya segelintir orang saja yang tau. Salah satu Unesco World Heritage Site ini merupakan “the most beautiful marine park in the World”
2. Maldives
10 PANTAI TERINDAH DI DUNIA
The best CALM BEACHES in the world. Indah, tenang, modern dan secluded. Kombinasi yang amat jarang ditemukan di pantai2 di dunia ini. Selamat datang di Maldives
3. Anguilla
Peringkat pertama di top 10 World Best beaches of 2005 Discovery Channel Travel and Adventure tentunya bukan cuma omong kosong. Anguilla punya segalanya. Ketenangan, kebersihan, modern, lengkap dengan kehidupan pulau kecilnya yang benar-benar “carribean”
4. Boracay, filipina

Pantai terindah, dan terbiru di lautan pacific
5. Horseshoe Bay
Bermuda merupakan salah satu tempat termahal untuk berwisata pantai di dunia ini. Tapi itu tidak menghalangi ribuan turis datang mengunjungi pulau ini setiap tahunnya. Cuaca yang bersahabat, calm water and waves, crystal clear water, dan pasir pinknya Horseshoey bay nyaris tak ada tandingannya di belahan planet ini. The best beach and island in Carribean!
6. Kondoi, Coral Beach Okinawa, Jepang
Okinawa. Kepulauan teraman di dunia ini. Pintu rumah2 penduduknya saja tidak pernah terkunci. 3 dari 10 orang tertua di dunia ini tinggal di kepulauan ini. Hasil dari suasana pedesaan jepang yang khas berpadu dengan pantai-pantai indah? Magnificent!Walau mahal.
7. Lanikai Beach, Hawaii
Pantai ini tidak begitu besar, tapi merupakan pantai dengan air terjernih dan terbiru di hawaii. Lengkap dengan pemandangan dua pulau kecil yang bernama Mokuluas di kejauhan. Selamat tinggal waikiki!
8. Mnmbe Lodge, Tanzania
Pantai terindah di Benua Africa, walau tidak terletak di Africa mainland. Perjalanan ke zanzibar tidaklah mudah, tapi jika anda telah samapai di pantai ini, semuanya serasa menjadi berharga.
9. Tulum Beach, Mexico
10 PANTAI TERINDAH DI DUNIA
Salah satu resort pertama yang ada di Mexico. Mungkin dari ratusan tahun sebelumnya juga sudah dipakai oleh Bangsa Maya sebagai resort. Pernah bermimpi berenang di Pantai yang berpasir putih, tenang dan relax diiringi oleh Background piramid-piramid mayan? Selamat datang di mimpimu
10. Whitehaven, Australia
7 Kilometer Pantai Pasir putih terbersih dan salah satu yang paling terisolir di dunia tentunya sudah pasti bisa mencukupi kebutuhan relaxing kita
bukan? Kacamata hitam adalah keharusan di pantai ini saking putihnya pasir pantai ini.
Top 10 Tempat Terindah di Indonesia
Berikut adalah tempat di Indonesia yang memiliki keajaiban, diantaranya yaitu:1.
1. Borobudur
Candi Borobudur merupakan salah satu candi Budha terbesar di dunia. Candi ini dibangun ketika Samaratungga - raja dari dinasti Syailendra memerintah di Jawa Tengah. Candi ini dianggap merupakan salah satu tujuh keajaiban dunia. Candi Borobudur terletak di desa Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Candi Borobudur sangat besar dan terdiri dari blok batu-batu besar dengan arsitektur yang sangat megah. Karena itu candi Borobudur saya tempatkan pada barisan pertama karena tingkat kesulitan pembuatannya.
2. Pulau Komodo
Pulau Komodo terletak di sebuah selat antara Pulau Flores di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Sumbawa di Nusa Tenggara Barat (NTB). Di Pulau Komodo terdapat kadal terbesar di dunia, yaitu biawak Komodo (Varanus komodoensis). Komodo dipercaya sebagai sisa binatang purba Dinosaurus yang masih hidup. panjang komodo dapat mencapai 3 meter dengan berat bisa mencapai 140 kg. Pada peariran di pulau Komodo juga terdapat perairan yang termasuk keajaiban dunia bawah air. Dasar laut perairan Komodo adalah yang terbaik di dunia, di permukaan laut menyembulnya daratan-daratan kering yang berbukit karang. Sangat pantas pulau Komodo dimasukan dalam daftar keajaiban di Indonesia.
3. Danau tiga warna Kelimutu

Danau ini oleh dunia disebut sebagai salah satu dari sembilan keajaiban dunia. Danau tiga warna terletak di Gunung Kelimutu, Flores,NTT. Di sana ada tiga danau yang berdekatan namun dengan warna-warna yang berbeda. Danau kawah tersebut adalah Tiwu Ata Polo (danau merah), Tiwu Nua Muri Kooh Fai (danau hijau) dan Tiwu Ata Mbupu (danau biru). Danau Kelimutu merupakan satu-satunya danau di dunia yang airnya dapat berubah setiap saat, dari merah menjadi hijau tua dan kemudian merah hati, hijau tua menjadi hijau muda, coklat kehitaman menjadi biru langit. Fenomena alam ini merupakan keajaiban.
4. Puncak Jayawijaya dan Carstenz

Puncak yang juga terdaftar sebagai salah satu dari tujuh puncak benua (Seven Summit) yang sangat fenomenal dan menjadi incaran pendaki gunung di berbagai belahan dunia. Puncak Jayawijaya terletak di Taman Nasional Laurentz, Papua. Puncak ini diselimuti oleh salju abadi. Salju abadi di Puncak Jayawijaya merupakan satu dari tiga padang salju di daerah tropis yang terdapat di dunia.
Di negeri kita yang dilalui garis khatulistiwa ini, menyaksikan adanya salju di Indonesia tentunya sesuatu yang mustahil untuk bisa dimengerti. Carstenz Pyramid (4884 mdpl) adalah salah satu puncak yang bersalju tersebut. Puncak tertinggi di Asia Tenggara dan Pasifik ini terletak di rangkaian Pegunungan Sudirman. Puncak ini terkenal tidak hanya karena tingginya, tetapi juga karena terdapat lapisan salju di puncaknya.
5. Prambanan

Candi Prambanan adalah candi Hindu terbesar di Asia Tenggara. Candi Prambanan terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Yogyakarta. Candi ini dibangun pada sekitar tahun 850 Masehi. Arsitektur bangunan ini sangat megah dan terdapat candi-candi baik besar maupun kecil pada Komplek Candi Prambanan ini. Juga ada legenda bahwa candi-candi tersebut hanya dibuat dalam satu malam saja oleh kesaktian Bandung bondowoso sebagai syarat mempersunting Loro Jonggrang. Tapi bukan karena legenda itu Prambanan dimasukkan dalam daftar ini tapi karena kehebatan arsitekturnya yang memukau dunia.
6. Pulau Bali
Pulau ini termasuk salah satu pulau terindah di Dunia. Pulau Bali merupakan pulau wisata terbaik di dunia. Obyek-obyek wisata di pulau Bali seperti Kintamani, Pantai Kuta, Danau Batur, Goa Gajah, Tampak Siring, Bedugul, Tanah Lot dan sebagainya. Pulau ini dimasukkan dalam daftar ini karena banyak tempat yang sangat menakjubkan dengan arsitektur bangunan dan keindahan alam di pulau ini yang juga sudah diakui dunia.
7. Bromo

Gunung Bromo merupakan salah satu gunung dari lima gunung yang terdapat di komplek Pegunungan Tengger di laut pasir. Daya tarik gunung ini adalah merupakan gunung yang masih aktif. Obyek wisata Gunung Bromo ini merupakan fenomena alam dengan Kekhasan gejala alam yang tidak ditemukan di tempat lain adalah adanya kawah di tengah kawah (creater in the creater) dengan hamparan laut pasir yang mengelilinginya.
8. Toraja
Toraja terletak Sulawesi Selatan. Tanah Toraja sangatlah unik, terutama dalam hal penguburan mayat. Mayat-mayat tidak dikubur, tetapi diletakkan di dalam gua-gua di bukit batu. Mayat-mayat ini ditemani oleh patung-patung yang menggambarkan orang yang meninggal tersebut. Di sini terdapat kuburan di bukit batu. Salah satu bentuk kuburan adalah kuburan batu yang dibuat di bagian atas tebing di ketinggian bukit batu. Menurut kepercayaan animisme Aluk To Dolo di kalangan orang Tana Toraja, makin tinggi tempat ditaruhnya mayat tersebut makin cepat rohnya bertemu dengan Tuhan atau surga.
9. Krakatau

Gunung Krakatau yang letusannya pernah mengguncangkan bumi. Gunung berapi ini pernah meletus pada tanggal 26 Agustus 1883. Letusannya sangat dahsyat dan juga menimbulkan tsunami yang menewaskan sekitar 36.000 jiwa.
Suara letusan gunung Krakatau sampai terdengar di Alice Springs, Australia dan pulau Rodrigues dekat Afrika. Gunung Krakatau berada di Selat Sunda antara pulau Jawa dan Sumatra. Bahkan debunya dikatakan sampai ke luar angkasa. Walaupun Krakatau sudah tidak berbahaya seperti dulu lagi (mudah-mudahan) tapi sejarahnya merupakan salah satu keajaiban alam tersendiri.
10. Danau Toba
Mungkin banyak yang tidak tahu bahwa Danau Toba dulunya adalah sebuah gunung berapi. Danau ini berada di bekas kawah supervolcano terbesar di dunia. Gunung Toba diperkirakan meletus pada 73 ribu tahun lalu. Letusan ini tercatat sebagai letusan Gunung api terbesar yang mempengaruhi iklim di seluruh dunia.
1. Borobudur
Candi Borobudur merupakan salah satu candi Budha terbesar di dunia. Candi ini dibangun ketika Samaratungga - raja dari dinasti Syailendra memerintah di Jawa Tengah. Candi ini dianggap merupakan salah satu tujuh keajaiban dunia. Candi Borobudur terletak di desa Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Candi Borobudur sangat besar dan terdiri dari blok batu-batu besar dengan arsitektur yang sangat megah. Karena itu candi Borobudur saya tempatkan pada barisan pertama karena tingkat kesulitan pembuatannya.
2. Pulau Komodo
Pulau Komodo terletak di sebuah selat antara Pulau Flores di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Sumbawa di Nusa Tenggara Barat (NTB). Di Pulau Komodo terdapat kadal terbesar di dunia, yaitu biawak Komodo (Varanus komodoensis). Komodo dipercaya sebagai sisa binatang purba Dinosaurus yang masih hidup. panjang komodo dapat mencapai 3 meter dengan berat bisa mencapai 140 kg. Pada peariran di pulau Komodo juga terdapat perairan yang termasuk keajaiban dunia bawah air. Dasar laut perairan Komodo adalah yang terbaik di dunia, di permukaan laut menyembulnya daratan-daratan kering yang berbukit karang. Sangat pantas pulau Komodo dimasukan dalam daftar keajaiban di Indonesia.
3. Danau tiga warna Kelimutu

Danau ini oleh dunia disebut sebagai salah satu dari sembilan keajaiban dunia. Danau tiga warna terletak di Gunung Kelimutu, Flores,NTT. Di sana ada tiga danau yang berdekatan namun dengan warna-warna yang berbeda. Danau kawah tersebut adalah Tiwu Ata Polo (danau merah), Tiwu Nua Muri Kooh Fai (danau hijau) dan Tiwu Ata Mbupu (danau biru). Danau Kelimutu merupakan satu-satunya danau di dunia yang airnya dapat berubah setiap saat, dari merah menjadi hijau tua dan kemudian merah hati, hijau tua menjadi hijau muda, coklat kehitaman menjadi biru langit. Fenomena alam ini merupakan keajaiban.
4. Puncak Jayawijaya dan Carstenz

Puncak yang juga terdaftar sebagai salah satu dari tujuh puncak benua (Seven Summit) yang sangat fenomenal dan menjadi incaran pendaki gunung di berbagai belahan dunia. Puncak Jayawijaya terletak di Taman Nasional Laurentz, Papua. Puncak ini diselimuti oleh salju abadi. Salju abadi di Puncak Jayawijaya merupakan satu dari tiga padang salju di daerah tropis yang terdapat di dunia.
Di negeri kita yang dilalui garis khatulistiwa ini, menyaksikan adanya salju di Indonesia tentunya sesuatu yang mustahil untuk bisa dimengerti. Carstenz Pyramid (4884 mdpl) adalah salah satu puncak yang bersalju tersebut. Puncak tertinggi di Asia Tenggara dan Pasifik ini terletak di rangkaian Pegunungan Sudirman. Puncak ini terkenal tidak hanya karena tingginya, tetapi juga karena terdapat lapisan salju di puncaknya.
5. Prambanan

Candi Prambanan adalah candi Hindu terbesar di Asia Tenggara. Candi Prambanan terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Yogyakarta. Candi ini dibangun pada sekitar tahun 850 Masehi. Arsitektur bangunan ini sangat megah dan terdapat candi-candi baik besar maupun kecil pada Komplek Candi Prambanan ini. Juga ada legenda bahwa candi-candi tersebut hanya dibuat dalam satu malam saja oleh kesaktian Bandung bondowoso sebagai syarat mempersunting Loro Jonggrang. Tapi bukan karena legenda itu Prambanan dimasukkan dalam daftar ini tapi karena kehebatan arsitekturnya yang memukau dunia.
6. Pulau Bali
Pulau ini termasuk salah satu pulau terindah di Dunia. Pulau Bali merupakan pulau wisata terbaik di dunia. Obyek-obyek wisata di pulau Bali seperti Kintamani, Pantai Kuta, Danau Batur, Goa Gajah, Tampak Siring, Bedugul, Tanah Lot dan sebagainya. Pulau ini dimasukkan dalam daftar ini karena banyak tempat yang sangat menakjubkan dengan arsitektur bangunan dan keindahan alam di pulau ini yang juga sudah diakui dunia.
7. Bromo

Gunung Bromo merupakan salah satu gunung dari lima gunung yang terdapat di komplek Pegunungan Tengger di laut pasir. Daya tarik gunung ini adalah merupakan gunung yang masih aktif. Obyek wisata Gunung Bromo ini merupakan fenomena alam dengan Kekhasan gejala alam yang tidak ditemukan di tempat lain adalah adanya kawah di tengah kawah (creater in the creater) dengan hamparan laut pasir yang mengelilinginya.
8. Toraja
Toraja terletak Sulawesi Selatan. Tanah Toraja sangatlah unik, terutama dalam hal penguburan mayat. Mayat-mayat tidak dikubur, tetapi diletakkan di dalam gua-gua di bukit batu. Mayat-mayat ini ditemani oleh patung-patung yang menggambarkan orang yang meninggal tersebut. Di sini terdapat kuburan di bukit batu. Salah satu bentuk kuburan adalah kuburan batu yang dibuat di bagian atas tebing di ketinggian bukit batu. Menurut kepercayaan animisme Aluk To Dolo di kalangan orang Tana Toraja, makin tinggi tempat ditaruhnya mayat tersebut makin cepat rohnya bertemu dengan Tuhan atau surga.
9. Krakatau

Gunung Krakatau yang letusannya pernah mengguncangkan bumi. Gunung berapi ini pernah meletus pada tanggal 26 Agustus 1883. Letusannya sangat dahsyat dan juga menimbulkan tsunami yang menewaskan sekitar 36.000 jiwa.
Suara letusan gunung Krakatau sampai terdengar di Alice Springs, Australia dan pulau Rodrigues dekat Afrika. Gunung Krakatau berada di Selat Sunda antara pulau Jawa dan Sumatra. Bahkan debunya dikatakan sampai ke luar angkasa. Walaupun Krakatau sudah tidak berbahaya seperti dulu lagi (mudah-mudahan) tapi sejarahnya merupakan salah satu keajaiban alam tersendiri.
10. Danau Toba
Mungkin banyak yang tidak tahu bahwa Danau Toba dulunya adalah sebuah gunung berapi. Danau ini berada di bekas kawah supervolcano terbesar di dunia. Gunung Toba diperkirakan meletus pada 73 ribu tahun lalu. Letusan ini tercatat sebagai letusan Gunung api terbesar yang mempengaruhi iklim di seluruh dunia.
Perubahan Iklim di Indonesia
Dampak buruk dari pemanasan global sudah nyata di Indonesia dan kemungkinan akan memperburuk akibat perubahan iklim lebih manusia-induced, memperingatkan WWF.
Tinjauan dari organisasi konservasi global, Perubahan Iklim di Indonesia - Implikasi untuk Manusia dan Alam, menyoroti bahwa curah hujan tahunan di negara keempat di dunia yang paling padat penduduknya sudah turun 2 sampai 3 persen, dan musim berubah.
Kombinasi dari kepadatan penduduk yang tinggi dan tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi, bersama-sama dengan 80.000 kilometer garis pantai dan mengejutkan 17.500 pulau, menjadikan Indonesia salah satu negara yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim.
Membersihkan kebakaran hutan untuk perkebunan kelapa sawit (Slash & Burn) Kalimantan Tengah, Indonesia. Indonesia merupakan penghasil emisi gas rumah kaca yang signifikan akibat deforestasi dan perubahan penggunaan lahan-. (Credit: Copyright WWF-Canon / Alain Compost).
Pergeseran pola cuaca telah membuat semakin sulit bagi petani Indonesia untuk memutuskan kapan untuk menanam tanaman mereka, dan kekeringan tak menentu dan curah hujan telah menyebabkan kegagalan panen. Sebuah studi baru-baru ini oleh sebuah lembaga penelitian lokal mengatakan bahwa Indonesia telah kehilangan 300.000 ton produksi tanaman setiap tahun antara 1992-2000, tiga kali kerugian tahunan dalam dekade sebelumnya.
Perubahan iklim di Indonesia berarti jutaan nelayan juga menghadapi kondisi cuaca yang lebih berat, sedangkan berkurangnya stok ikan mempengaruhi pendapatan mereka. Indonesia's 40 juta miskin, termasuk petani dan nelayan, akan menjadi ancaman terburuk karena terkena dampak termasuk naiknya permukaan air laut, kekeringan yang berkepanjangan dan siklon tropis, kata laporan itu.
"Seperti curah hujan menurun selama masa kritis tahun ini diterjemahkan ke dalam risiko kekeringan tinggi, akibatnya penurunan hasil panen, ketidakstabilan ekonomi dan orang-orang secara drastis lebih kurang gizi," kata Fitrian Ardiansyah, Direktur WWF-Indonesia Iklim dan Energi Program. “This will undo Indonesia's progress against poverty and food insecurity.” "Ini akan membatalkan kemajuan Indonesia melawan kemiskinan dan rawan pangan."
Review WWF menunjukkan bahwa peningkatan curah hujan selama masa sudah basah tahun dapat menyebabkan risiko banjir tinggi, seperti banjir di Jakarta Februari tahun ini yang menewaskan lebih dari 65 orang dan pengungsi hampir setengah juta orang, dengan kerugian ekonomi US $ 450 juta .
Dampak perubahan iklim yang terlihat di seluruh wilayah Asia-Pasifik. Gelombang panas yang lebih sering dan parah, banjir, peristiwa cuaca ekstrem dan kekeringan yang berkepanjangan akan terus mengarah pada peningkatan, penyakit cedera dan kematian. Suhu pemanasan Lanjutan juga akan meningkatkan jumlah kasus malaria dan demam berdarah dan menyebabkan peningkatan penyakit menular lainnya sebagai akibat gizi buruk karena gangguan produksi pangan.
"Pemerintah Indonesia harus mengambil peran serius dan memimpin jalan dalam memerangi perubahan iklim global," kata Mubariq Ahmad, Direktur Eksekutif dan CEO WWF-Indonesia."Indonesia telah mengambil tantangan perubahan iklim, menempatkan adaptasi iklim ke dalam agenda pembangunan, mempromosikan penggunaan lahan yang berkelanjutan, serta dukungan menuntut dari negara-negara industri."
Indonesia sudah menjadi penghasil emisi gas rumah kaca yang signifikan akibat deforestasi dan perubahan penggunaan lahan, diperkirakan sekitar 2 juta hektar per tahun dan menyumbang 85 persen emisi tahunan negara gas rumah kaca. IIni juga merupakan produsen batubara yang serius dan pengguna di wilayah tersebut.
"Pemerintah Indonesia tahu bagaimana tindakan penting terhadap perubahan iklim untuk negara mereka sendiri dan orang-orang, dan telah menaruh banyak pekerjaan ke kemudi negosiasi Bali," kata Hans Verolme, Direktur Perubahan Iklim Global WWF Program.
Tapi pengaruh akan terasa lebih akut oleh orang-orang miskin, yang hidup di daerah yang paling marjinal yang rentan terhadap kekeringan, misalnya, atau untuk banjir dan tanah longsor. Negara maju bertanggung jawab atas sebagian besar emisi gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global, kata United Nations Development Programme's Country Director Hakan Bjorkman."Masyarakat miskin berjalan di bumi dengan jejak karbon sangat ringan," kata Bjorkman, tapi "mereka ditetapkan untuk paling menderita dari beberapa tindakan."
Indonesia At Risk: Climate Change Threatens People And Nature. ScienceDaily. Indonesia Pada Risiko: Perubahan Iklim Mengancam Rakyat Dan Alam ScienceDaily..
Reuters (2007, November 28) Indonesia Losing Crops, Fish Stocks to Global Warming, Planet Ark. Reuters (2007, November 28) Tanaman Indonesia Kehilangan, Saham Ikan untuk Pemanasan Global, Planet Ark
Tinjauan dari organisasi konservasi global, Perubahan Iklim di Indonesia - Implikasi untuk Manusia dan Alam, menyoroti bahwa curah hujan tahunan di negara keempat di dunia yang paling padat penduduknya sudah turun 2 sampai 3 persen, dan musim berubah.
Kombinasi dari kepadatan penduduk yang tinggi dan tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi, bersama-sama dengan 80.000 kilometer garis pantai dan mengejutkan 17.500 pulau, menjadikan Indonesia salah satu negara yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim.
Membersihkan kebakaran hutan untuk perkebunan kelapa sawit (Slash & Burn) Kalimantan Tengah, Indonesia. Indonesia merupakan penghasil emisi gas rumah kaca yang signifikan akibat deforestasi dan perubahan penggunaan lahan-. (Credit: Copyright WWF-Canon / Alain Compost).
Pergeseran pola cuaca telah membuat semakin sulit bagi petani Indonesia untuk memutuskan kapan untuk menanam tanaman mereka, dan kekeringan tak menentu dan curah hujan telah menyebabkan kegagalan panen. Sebuah studi baru-baru ini oleh sebuah lembaga penelitian lokal mengatakan bahwa Indonesia telah kehilangan 300.000 ton produksi tanaman setiap tahun antara 1992-2000, tiga kali kerugian tahunan dalam dekade sebelumnya.
Perubahan iklim di Indonesia berarti jutaan nelayan juga menghadapi kondisi cuaca yang lebih berat, sedangkan berkurangnya stok ikan mempengaruhi pendapatan mereka. Indonesia's 40 juta miskin, termasuk petani dan nelayan, akan menjadi ancaman terburuk karena terkena dampak termasuk naiknya permukaan air laut, kekeringan yang berkepanjangan dan siklon tropis, kata laporan itu.
"Seperti curah hujan menurun selama masa kritis tahun ini diterjemahkan ke dalam risiko kekeringan tinggi, akibatnya penurunan hasil panen, ketidakstabilan ekonomi dan orang-orang secara drastis lebih kurang gizi," kata Fitrian Ardiansyah, Direktur WWF-Indonesia Iklim dan Energi Program. “This will undo Indonesia's progress against poverty and food insecurity.” "Ini akan membatalkan kemajuan Indonesia melawan kemiskinan dan rawan pangan."
Review WWF menunjukkan bahwa peningkatan curah hujan selama masa sudah basah tahun dapat menyebabkan risiko banjir tinggi, seperti banjir di Jakarta Februari tahun ini yang menewaskan lebih dari 65 orang dan pengungsi hampir setengah juta orang, dengan kerugian ekonomi US $ 450 juta .
Dampak perubahan iklim yang terlihat di seluruh wilayah Asia-Pasifik. Gelombang panas yang lebih sering dan parah, banjir, peristiwa cuaca ekstrem dan kekeringan yang berkepanjangan akan terus mengarah pada peningkatan, penyakit cedera dan kematian. Suhu pemanasan Lanjutan juga akan meningkatkan jumlah kasus malaria dan demam berdarah dan menyebabkan peningkatan penyakit menular lainnya sebagai akibat gizi buruk karena gangguan produksi pangan.
"Pemerintah Indonesia harus mengambil peran serius dan memimpin jalan dalam memerangi perubahan iklim global," kata Mubariq Ahmad, Direktur Eksekutif dan CEO WWF-Indonesia."Indonesia telah mengambil tantangan perubahan iklim, menempatkan adaptasi iklim ke dalam agenda pembangunan, mempromosikan penggunaan lahan yang berkelanjutan, serta dukungan menuntut dari negara-negara industri."
Indonesia sudah menjadi penghasil emisi gas rumah kaca yang signifikan akibat deforestasi dan perubahan penggunaan lahan, diperkirakan sekitar 2 juta hektar per tahun dan menyumbang 85 persen emisi tahunan negara gas rumah kaca. IIni juga merupakan produsen batubara yang serius dan pengguna di wilayah tersebut.
"Pemerintah Indonesia tahu bagaimana tindakan penting terhadap perubahan iklim untuk negara mereka sendiri dan orang-orang, dan telah menaruh banyak pekerjaan ke kemudi negosiasi Bali," kata Hans Verolme, Direktur Perubahan Iklim Global WWF Program.
Tapi pengaruh akan terasa lebih akut oleh orang-orang miskin, yang hidup di daerah yang paling marjinal yang rentan terhadap kekeringan, misalnya, atau untuk banjir dan tanah longsor. Negara maju bertanggung jawab atas sebagian besar emisi gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global, kata United Nations Development Programme's Country Director Hakan Bjorkman."Masyarakat miskin berjalan di bumi dengan jejak karbon sangat ringan," kata Bjorkman, tapi "mereka ditetapkan untuk paling menderita dari beberapa tindakan."
Indonesia At Risk: Climate Change Threatens People And Nature. ScienceDaily. Indonesia Pada Risiko: Perubahan Iklim Mengancam Rakyat Dan Alam ScienceDaily..
Reuters (2007, November 28) Indonesia Losing Crops, Fish Stocks to Global Warming, Planet Ark. Reuters (2007, November 28) Tanaman Indonesia Kehilangan, Saham Ikan untuk Pemanasan Global, Planet Ark
Mengukur Perubahan Iklim
Tidak ada satu instrumen mengukur perubahan iklim. Sebaliknya ada ribuan alat ukur menyebar ke seluruh dunia, di darat, bawah laut dan di udara. Sistem iklim adalah sistem, kompleks interaktif yang terdiri dari atmosfer, permukaan tanah, salju dan es, laut dan badan air lainnya, dan makhluk hidup. Iklim biasanya digambarkan dalam hal mean dan variabilitas suhu, curah hujan dan angin selama periode waktu, mulai dari bulan sampai jutaan tahun (periode klasik adalah 30 tahun, lihat cuaca dan iklim untuk informasi lebih lanjut tentang perbedaan antara dua).
Tak terhitung uji empirik hipotesis yang berbeda banyak sekarang membangun sebuah tubuh besar pengetahuan ilmu bumi. Pengujian berulang telah disempurnakan pemahaman banyak aspek dari sistem iklim, dari peredaran samudera dalam untuk kimia stratosfer. Kadang-kadang kombinasi pengamatan dan model dapat digunakan untuk menguji hipotesis planet-skala. Sebagai contoh, global pendinginan dan pengeringan atmosfer diamati setelah letusan Gunung Pinatubo disediakan tes kunci dari aspek-aspek tertentu dari model iklim.
Iklim ilmu dalam dekade terakhir ini telah melihat peningkatan tingkat kemajuan, khususnya dalam penelitian lapangan dan terutama melalui evolusi mengukur perubahan iklim metodologi dan alat-alat, termasuk model dan pengamatan yang mendukung dan memungkinkan penelitian. Selama empat dekade terakhir, tingkat di mana para ilmuwan telah ditambahkan ke tubuh pengetahuan proses atmosfer dan kelautan telah dipercepat secara dramatis. Sebagai ilmuwan bertahap meningkatkan totalitas pengetahuan, mereka mempublikasikan hasil mereka di peer-review jurnal.
Instrumen Digunakan Ketika Mengukur Perubahan Iklim
Ada sejumlah faktor kunci dalam mengukur perubahan iklim, dan mereka dikategorikan di bawah ini. Kisaran instrumentasi yang digunakan untuk mengamati dan mengukur iklim benar-benar menakjubkan.. Dengan mengikuti link di bawah ini Anda dapat melihat jenis instrumen, dan di mana mereka digunakan.
Suhu Saat mengukur perubahan iklim ini adalah primer dan dapat diukur atau direkonstruksi untuk permukaan bumi, dan suhu permukaan laut (SST).
Air hujan (curah hujan, dll salju) menawarkan satu indikator variasi iklim relatif dan mungkin termasuk kelembaban atau neraca air, dan kualitas air.
Biomassa dan pola vegetasi dapat dilihat dalam berbagai cara dan memberi bukti tentang bagaimana perubahan ekosistem beradaptasi dengan perubahan iklim.
Tingkat Laut pengukuran mencerminkan perubahan garis pantai dan biasanya berhubungan dengan tingkat cakupan es di lintang tinggi dan elevasi.
Solar Kegiatan dapat mempengaruhi iklim, terutama melalui perubahan intensitas radiasi matahari.
Letusan gunung berapi, seperti radiasi matahari, bisa mengubah iklim karena aerosol yang dipancarkan ke atmosfer dan mengubah pola iklim.
Kimia komposisi udara atau air dapat diukur dengan melacak tingkat gas rumah kaca seperti karbon dioksida dan metana, dan mengukur rasio isotop oksigen. Penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan yang kuat antara persen karbon dioksida di atmosfer dan suhu rata-rata bumi.
Menggabungkan Observasi dan Pengukuran
Dalam memahami perubahan iklim global perlu untuk menggabungkan banyak disiplin ilmu, termasuk oseanografi, meteorologi, geologi geomorfologi, dan paleoklimatologi. Selain menggabungkan studi lintas disiplin, pengamatan dan pengukuran dapat disusun selama rentang waktu yang lama, dengan menggunakan pendekatan pengukuran yang berbeda.. Misalnya, rata-rata tahunan permukaan laut global rata-rata terlihat di bawah ini didasarkan pada bidang permukaan laut direkonstruksi sejak 1870 (merah), dan pengukuran mengukur pasang surut adalah sejak 1950 (biru) sementara altimetri satelit sejak tahun 1992 (hitam). Satuan dalam milimeter relatif terhadap rata-rata 1961-1990 dan bar kesalahan berada pada interval kepercayaan 90.

Tak terhitung uji empirik hipotesis yang berbeda banyak sekarang membangun sebuah tubuh besar pengetahuan ilmu bumi. Pengujian berulang telah disempurnakan pemahaman banyak aspek dari sistem iklim, dari peredaran samudera dalam untuk kimia stratosfer. Kadang-kadang kombinasi pengamatan dan model dapat digunakan untuk menguji hipotesis planet-skala. Sebagai contoh, global pendinginan dan pengeringan atmosfer diamati setelah letusan Gunung Pinatubo disediakan tes kunci dari aspek-aspek tertentu dari model iklim.
Iklim ilmu dalam dekade terakhir ini telah melihat peningkatan tingkat kemajuan, khususnya dalam penelitian lapangan dan terutama melalui evolusi mengukur perubahan iklim metodologi dan alat-alat, termasuk model dan pengamatan yang mendukung dan memungkinkan penelitian. Selama empat dekade terakhir, tingkat di mana para ilmuwan telah ditambahkan ke tubuh pengetahuan proses atmosfer dan kelautan telah dipercepat secara dramatis. Sebagai ilmuwan bertahap meningkatkan totalitas pengetahuan, mereka mempublikasikan hasil mereka di peer-review jurnal.
Instrumen Digunakan Ketika Mengukur Perubahan Iklim
Ada sejumlah faktor kunci dalam mengukur perubahan iklim, dan mereka dikategorikan di bawah ini. Kisaran instrumentasi yang digunakan untuk mengamati dan mengukur iklim benar-benar menakjubkan.. Dengan mengikuti link di bawah ini Anda dapat melihat jenis instrumen, dan di mana mereka digunakan.
Suhu Saat mengukur perubahan iklim ini adalah primer dan dapat diukur atau direkonstruksi untuk permukaan bumi, dan suhu permukaan laut (SST).
Air hujan (curah hujan, dll salju) menawarkan satu indikator variasi iklim relatif dan mungkin termasuk kelembaban atau neraca air, dan kualitas air.
Biomassa dan pola vegetasi dapat dilihat dalam berbagai cara dan memberi bukti tentang bagaimana perubahan ekosistem beradaptasi dengan perubahan iklim.
Tingkat Laut pengukuran mencerminkan perubahan garis pantai dan biasanya berhubungan dengan tingkat cakupan es di lintang tinggi dan elevasi.
Solar Kegiatan dapat mempengaruhi iklim, terutama melalui perubahan intensitas radiasi matahari.
Letusan gunung berapi, seperti radiasi matahari, bisa mengubah iklim karena aerosol yang dipancarkan ke atmosfer dan mengubah pola iklim.
Kimia komposisi udara atau air dapat diukur dengan melacak tingkat gas rumah kaca seperti karbon dioksida dan metana, dan mengukur rasio isotop oksigen. Penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan yang kuat antara persen karbon dioksida di atmosfer dan suhu rata-rata bumi.
Menggabungkan Observasi dan Pengukuran
Dalam memahami perubahan iklim global perlu untuk menggabungkan banyak disiplin ilmu, termasuk oseanografi, meteorologi, geologi geomorfologi, dan paleoklimatologi. Selain menggabungkan studi lintas disiplin, pengamatan dan pengukuran dapat disusun selama rentang waktu yang lama, dengan menggunakan pendekatan pengukuran yang berbeda.. Misalnya, rata-rata tahunan permukaan laut global rata-rata terlihat di bawah ini didasarkan pada bidang permukaan laut direkonstruksi sejak 1870 (merah), dan pengukuran mengukur pasang surut adalah sejak 1950 (biru) sementara altimetri satelit sejak tahun 1992 (hitam). Satuan dalam milimeter relatif terhadap rata-rata 1961-1990 dan bar kesalahan berada pada interval kepercayaan 90
Dengan menggabungkan ketiga pendekatan yang berbeda, para ilmuwan dapat membangun sebuah gambaran yang jelas tentang kenaikan permukaan laut yang tidak akan mungkin jika masing-masing disajikan secara independen. Anda juga dapat melihat dengan pengenalan pengukuran yang akurat, tingkat kepercayaan untuk meningkatkan akurasi.
Bagaimana Iklim terakumulasi Pengetahuan
Meskipun kadang-kadang pergeseran paradigma utama, mayoritas wawasan ilmiah, bahkan wawasan tak terduga, cenderung muncul secara bertahap sebagai hasil dari upaya berulang-ulang untuk menguji hipotesis sedapat mungkin. Oleh karena itu, karena hampir setiap muka baru berdasarkan penelitian dan pemahaman yang telah terjadi sebelumnya, ilmu adalah kumulatif, dengan fitur yang berguna ditahan dan fitur non-berguna ditinggalkan. Penelitian para ilmuwan Aktif, sepanjang karir mereka, biasanya menghabiskan fraksi besar waktu mereka bekerja mempelajari secara mendalam apa yang para ilmuwan lain telah dilakukan.
Dangkal atau amatir kenalan dengan kondisi saat ini topik penelitian ilmiah merupakan penghalang bagi kemajuan ilmuwan. Kerja ilmuwan tahu bahwa hari di perpustakaan dapat menghemat satu tahun di laboratorium ketika mengukur perubahan iklim.
Pertanyaan ilmu baik bersaing pernyataan tentang perubahan iklim. Sebagai contoh, bisa pernyataan di bawah pertimbangan, pada prinsipnya, dibuktikan palsu? Has it been rigorously tested? Apakah sudah ketat diuji? Apakah hal itu muncul dalam literatur peer-review? Apakah itu membangun catatan penelitian yang ada mana yang tepat? Jika jawaban untuk semua pertanyaan ini adalah tidak, maka kurang kepercayaan harus diberikan kepada pernyataan sampai diuji dan diverifikasi secara independen.
Ketidakpastian Mengukur Perubahan Iklim
Sejarah abad-upaya panjang untuk mendokumentasikan dan memahami perubahan iklim sering kompleks, ditandai dengan keberhasilan dan kegagalan, dan telah mengikuti kecepatan yang sangat tidak merata. Pengujian temuan ilmiah dan secara terbuka mendiskusikan hasil tes telah menjadi kunci kemajuan luar biasa yang sekarang mempercepat dalam semua domain, meskipun keterbatasan kapasitas prediktif. Perubahan iklim ilmu pengetahuan sekarang memberikan kontribusi dasar pendekatan interdisipliner baru untuk memahami lingkungan kita. Akibatnya, banyak diterbitkan penelitian dan banyak kemajuan ilmiah terkemuka telah terjadi dalam beberapa dekade terakhir, termasuk kemajuan dalam pemahaman dan pengobatan ketidakpastian.
Ketidakpastian dapat digolongkan dalam beberapa cara yang berbeda menurut asal mereka. Dua tipe utama adalah 'ketidakpastian nilai' dan 'ketidakpastian struktural'. Nilai ketidakpastian yang timbul dari penetapan lengkap nilai-nilai tertentu atau hasil, misalnya, ketika data tidak akurat atau tidak sepenuhnya mewakili fenomena bunga. Struktural ketidakpastian timbul dari pemahaman yang tidak lengkap dari proses-proses yang mengontrol nilai-nilai tertentu atau hasil, misalnya, ketika kerangka konseptual atau model yang digunakan untuk analisis ini tidak mencakup semua proses yang relevan atau hubungan.
Ketidakpastian yang terkait dengan 'kesalahan acak' memiliki karakteristik penurunan sebagai pengukuran tambahan akumulasi, sedangkan yang berhubungan dengan 'kesalahan sistematis' tidakDalam berhubungan dengan catatan iklim, para ilmuwan memberi perhatian kepada identifikasi kesalahan sistematis atau bias yang tidak diinginkan yang timbul dari data sampling isu dan metode menganalisis dan menggabungkan data.
Untungnya, ilmu pengetahuan secara inheren mengoreksi diri; konsep ilmiah tidak benar atau tidak lengkap pada akhirnya tidak bertahan diulang pengujian terhadap pengamatan alam.
Dengan menggabungkan ketiga pendekatan yang berbeda, para ilmuwan dapat membangun sebuah gambaran yang jelas tentang kenaikan permukaan laut yang tidak akan mungkin jika masing-masing disajikan secara independen. Anda juga dapat melihat dengan pengenalan pengukuran yang akurat, tingkat kepercayaan untuk meningkatkan akurasi.
Bagaimana Iklim terakumulasi Pengetahuan
Meskipun kadang-kadang pergeseran paradigma utama, mayoritas wawasan ilmiah, bahkan wawasan tak terduga, cenderung muncul secara bertahap sebagai hasil dari upaya berulang-ulang untuk menguji hipotesis sedapat mungkin. Oleh karena itu, karena hampir setiap muka baru berdasarkan penelitian dan pemahaman yang telah terjadi sebelumnya, ilmu adalah kumulatif, dengan fitur yang berguna ditahan dan fitur non-berguna ditinggalkan. Penelitian para ilmuwan Aktif, sepanjang karir mereka, biasanya menghabiskan fraksi besar waktu mereka bekerja mempelajari secara mendalam apa yang para ilmuwan lain telah dilakukan.
Dangkal atau amatir kenalan dengan kondisi saat ini topik penelitian ilmiah merupakan penghalang bagi kemajuan ilmuwan. Kerja ilmuwan tahu bahwa hari di perpustakaan dapat menghemat satu tahun di laboratorium ketika mengukur perubahan iklim.
Pertanyaan ilmu baik bersaing pernyataan tentang perubahan iklim. Sebagai contoh, bisa pernyataan di bawah pertimbangan, pada prinsipnya, dibuktikan palsu? Has it been rigorously tested? Apakah sudah ketat diuji? Apakah hal itu muncul dalam literatur peer-review? Apakah itu membangun catatan penelitian yang ada mana yang tepat? Jika jawaban untuk semua pertanyaan ini adalah tidak, maka kurang kepercayaan harus diberikan kepada pernyataan sampai diuji dan diverifikasi secara independen.
Ketidakpastian Mengukur Perubahan Iklim
Sejarah abad-upaya panjang untuk mendokumentasikan dan memahami perubahan iklim sering kompleks, ditandai dengan keberhasilan dan kegagalan, dan telah mengikuti kecepatan yang sangat tidak merata. Pengujian temuan ilmiah dan secara terbuka mendiskusikan hasil tes telah menjadi kunci kemajuan luar biasa yang sekarang mempercepat dalam semua domain, meskipun keterbatasan kapasitas prediktif. Perubahan iklim ilmu pengetahuan sekarang memberikan kontribusi dasar pendekatan interdisipliner baru untuk memahami lingkungan kita. Akibatnya, banyak diterbitkan penelitian dan banyak kemajuan ilmiah terkemuka telah terjadi dalam beberapa dekade terakhir, termasuk kemajuan dalam pemahaman dan pengobatan ketidakpastian.
Ketidakpastian dapat digolongkan dalam beberapa cara yang berbeda menurut asal mereka. Dua tipe utama adalah 'ketidakpastian nilai' dan 'ketidakpastian struktural'. Nilai ketidakpastian yang timbul dari penetapan lengkap nilai-nilai tertentu atau hasil, misalnya, ketika data tidak akurat atau tidak sepenuhnya mewakili fenomena bunga. Struktural ketidakpastian timbul dari pemahaman yang tidak lengkap dari proses-proses yang mengontrol nilai-nilai tertentu atau hasil, misalnya, ketika kerangka konseptual atau model yang digunakan untuk analisis ini tidak mencakup semua proses yang relevan atau hubungan.
Ketidakpastian yang terkait dengan 'kesalahan acak' memiliki karakteristik penurunan sebagai pengukuran tambahan akumulasi, sedangkan yang berhubungan dengan 'kesalahan sistematis' tidakDalam berhubungan dengan catatan iklim, para ilmuwan memberi perhatian kepada identifikasi kesalahan sistematis atau bias yang tidak diinginkan yang timbul dari data sampling isu dan metode menganalisis dan menggabungkan data.
Untungnya, ilmu pengetahuan secara inheren mengoreksi diri; konsep ilmiah tidak benar atau tidak lengkap pada akhirnya tidak bertahan diulang pengujian terhadap pengamatan alam.
Tak terhitung uji empirik hipotesis yang berbeda banyak sekarang membangun sebuah tubuh besar pengetahuan ilmu bumi. Pengujian berulang telah disempurnakan pemahaman banyak aspek dari sistem iklim, dari peredaran samudera dalam untuk kimia stratosfer. Kadang-kadang kombinasi pengamatan dan model dapat digunakan untuk menguji hipotesis planet-skala. Sebagai contoh, global pendinginan dan pengeringan atmosfer diamati setelah letusan Gunung Pinatubo disediakan tes kunci dari aspek-aspek tertentu dari model iklim.
Iklim ilmu dalam dekade terakhir ini telah melihat peningkatan tingkat kemajuan, khususnya dalam penelitian lapangan dan terutama melalui evolusi mengukur perubahan iklim metodologi dan alat-alat, termasuk model dan pengamatan yang mendukung dan memungkinkan penelitian. Selama empat dekade terakhir, tingkat di mana para ilmuwan telah ditambahkan ke tubuh pengetahuan proses atmosfer dan kelautan telah dipercepat secara dramatis. Sebagai ilmuwan bertahap meningkatkan totalitas pengetahuan, mereka mempublikasikan hasil mereka di peer-review jurnal.
Instrumen Digunakan Ketika Mengukur Perubahan Iklim
Ada sejumlah faktor kunci dalam mengukur perubahan iklim, dan mereka dikategorikan di bawah ini. Kisaran instrumentasi yang digunakan untuk mengamati dan mengukur iklim benar-benar menakjubkan.. Dengan mengikuti link di bawah ini Anda dapat melihat jenis instrumen, dan di mana mereka digunakan.
Suhu Saat mengukur perubahan iklim ini adalah primer dan dapat diukur atau direkonstruksi untuk permukaan bumi, dan suhu permukaan laut (SST).
Air hujan (curah hujan, dll salju) menawarkan satu indikator variasi iklim relatif dan mungkin termasuk kelembaban atau neraca air, dan kualitas air.
Biomassa dan pola vegetasi dapat dilihat dalam berbagai cara dan memberi bukti tentang bagaimana perubahan ekosistem beradaptasi dengan perubahan iklim.
Tingkat Laut pengukuran mencerminkan perubahan garis pantai dan biasanya berhubungan dengan tingkat cakupan es di lintang tinggi dan elevasi.
Solar Kegiatan dapat mempengaruhi iklim, terutama melalui perubahan intensitas radiasi matahari.
Letusan gunung berapi, seperti radiasi matahari, bisa mengubah iklim karena aerosol yang dipancarkan ke atmosfer dan mengubah pola iklim.
Kimia komposisi udara atau air dapat diukur dengan melacak tingkat gas rumah kaca seperti karbon dioksida dan metana, dan mengukur rasio isotop oksigen. Penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan yang kuat antara persen karbon dioksida di atmosfer dan suhu rata-rata bumi.
Menggabungkan Observasi dan Pengukuran
Dalam memahami perubahan iklim global perlu untuk menggabungkan banyak disiplin ilmu, termasuk oseanografi, meteorologi, geologi geomorfologi, dan paleoklimatologi. Selain menggabungkan studi lintas disiplin, pengamatan dan pengukuran dapat disusun selama rentang waktu yang lama, dengan menggunakan pendekatan pengukuran yang berbeda.. Misalnya, rata-rata tahunan permukaan laut global rata-rata terlihat di bawah ini didasarkan pada bidang permukaan laut direkonstruksi sejak 1870 (merah), dan pengukuran mengukur pasang surut adalah sejak 1950 (biru) sementara altimetri satelit sejak tahun 1992 (hitam). Satuan dalam milimeter relatif terhadap rata-rata 1961-1990 dan bar kesalahan berada pada interval kepercayaan 90.

Tak terhitung uji empirik hipotesis yang berbeda banyak sekarang membangun sebuah tubuh besar pengetahuan ilmu bumi. Pengujian berulang telah disempurnakan pemahaman banyak aspek dari sistem iklim, dari peredaran samudera dalam untuk kimia stratosfer. Kadang-kadang kombinasi pengamatan dan model dapat digunakan untuk menguji hipotesis planet-skala. Sebagai contoh, global pendinginan dan pengeringan atmosfer diamati setelah letusan Gunung Pinatubo disediakan tes kunci dari aspek-aspek tertentu dari model iklim.
Iklim ilmu dalam dekade terakhir ini telah melihat peningkatan tingkat kemajuan, khususnya dalam penelitian lapangan dan terutama melalui evolusi mengukur perubahan iklim metodologi dan alat-alat, termasuk model dan pengamatan yang mendukung dan memungkinkan penelitian. Selama empat dekade terakhir, tingkat di mana para ilmuwan telah ditambahkan ke tubuh pengetahuan proses atmosfer dan kelautan telah dipercepat secara dramatis. Sebagai ilmuwan bertahap meningkatkan totalitas pengetahuan, mereka mempublikasikan hasil mereka di peer-review jurnal.
Instrumen Digunakan Ketika Mengukur Perubahan Iklim
Ada sejumlah faktor kunci dalam mengukur perubahan iklim, dan mereka dikategorikan di bawah ini. Kisaran instrumentasi yang digunakan untuk mengamati dan mengukur iklim benar-benar menakjubkan.. Dengan mengikuti link di bawah ini Anda dapat melihat jenis instrumen, dan di mana mereka digunakan.
Suhu Saat mengukur perubahan iklim ini adalah primer dan dapat diukur atau direkonstruksi untuk permukaan bumi, dan suhu permukaan laut (SST).
Air hujan (curah hujan, dll salju) menawarkan satu indikator variasi iklim relatif dan mungkin termasuk kelembaban atau neraca air, dan kualitas air.
Biomassa dan pola vegetasi dapat dilihat dalam berbagai cara dan memberi bukti tentang bagaimana perubahan ekosistem beradaptasi dengan perubahan iklim.
Tingkat Laut pengukuran mencerminkan perubahan garis pantai dan biasanya berhubungan dengan tingkat cakupan es di lintang tinggi dan elevasi.
Solar Kegiatan dapat mempengaruhi iklim, terutama melalui perubahan intensitas radiasi matahari.
Letusan gunung berapi, seperti radiasi matahari, bisa mengubah iklim karena aerosol yang dipancarkan ke atmosfer dan mengubah pola iklim.
Kimia komposisi udara atau air dapat diukur dengan melacak tingkat gas rumah kaca seperti karbon dioksida dan metana, dan mengukur rasio isotop oksigen. Penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan yang kuat antara persen karbon dioksida di atmosfer dan suhu rata-rata bumi.
Menggabungkan Observasi dan Pengukuran
Dalam memahami perubahan iklim global perlu untuk menggabungkan banyak disiplin ilmu, termasuk oseanografi, meteorologi, geologi geomorfologi, dan paleoklimatologi. Selain menggabungkan studi lintas disiplin, pengamatan dan pengukuran dapat disusun selama rentang waktu yang lama, dengan menggunakan pendekatan pengukuran yang berbeda.. Misalnya, rata-rata tahunan permukaan laut global rata-rata terlihat di bawah ini didasarkan pada bidang permukaan laut direkonstruksi sejak 1870 (merah), dan pengukuran mengukur pasang surut adalah sejak 1950 (biru) sementara altimetri satelit sejak tahun 1992 (hitam). Satuan dalam milimeter relatif terhadap rata-rata 1961-1990 dan bar kesalahan berada pada interval kepercayaan 90
Dengan menggabungkan ketiga pendekatan yang berbeda, para ilmuwan dapat membangun sebuah gambaran yang jelas tentang kenaikan permukaan laut yang tidak akan mungkin jika masing-masing disajikan secara independen. Anda juga dapat melihat dengan pengenalan pengukuran yang akurat, tingkat kepercayaan untuk meningkatkan akurasi.
Bagaimana Iklim terakumulasi Pengetahuan
Meskipun kadang-kadang pergeseran paradigma utama, mayoritas wawasan ilmiah, bahkan wawasan tak terduga, cenderung muncul secara bertahap sebagai hasil dari upaya berulang-ulang untuk menguji hipotesis sedapat mungkin. Oleh karena itu, karena hampir setiap muka baru berdasarkan penelitian dan pemahaman yang telah terjadi sebelumnya, ilmu adalah kumulatif, dengan fitur yang berguna ditahan dan fitur non-berguna ditinggalkan. Penelitian para ilmuwan Aktif, sepanjang karir mereka, biasanya menghabiskan fraksi besar waktu mereka bekerja mempelajari secara mendalam apa yang para ilmuwan lain telah dilakukan.
Dangkal atau amatir kenalan dengan kondisi saat ini topik penelitian ilmiah merupakan penghalang bagi kemajuan ilmuwan. Kerja ilmuwan tahu bahwa hari di perpustakaan dapat menghemat satu tahun di laboratorium ketika mengukur perubahan iklim.
Pertanyaan ilmu baik bersaing pernyataan tentang perubahan iklim. Sebagai contoh, bisa pernyataan di bawah pertimbangan, pada prinsipnya, dibuktikan palsu? Has it been rigorously tested? Apakah sudah ketat diuji? Apakah hal itu muncul dalam literatur peer-review? Apakah itu membangun catatan penelitian yang ada mana yang tepat? Jika jawaban untuk semua pertanyaan ini adalah tidak, maka kurang kepercayaan harus diberikan kepada pernyataan sampai diuji dan diverifikasi secara independen.
Ketidakpastian Mengukur Perubahan Iklim
Sejarah abad-upaya panjang untuk mendokumentasikan dan memahami perubahan iklim sering kompleks, ditandai dengan keberhasilan dan kegagalan, dan telah mengikuti kecepatan yang sangat tidak merata. Pengujian temuan ilmiah dan secara terbuka mendiskusikan hasil tes telah menjadi kunci kemajuan luar biasa yang sekarang mempercepat dalam semua domain, meskipun keterbatasan kapasitas prediktif. Perubahan iklim ilmu pengetahuan sekarang memberikan kontribusi dasar pendekatan interdisipliner baru untuk memahami lingkungan kita. Akibatnya, banyak diterbitkan penelitian dan banyak kemajuan ilmiah terkemuka telah terjadi dalam beberapa dekade terakhir, termasuk kemajuan dalam pemahaman dan pengobatan ketidakpastian.
Ketidakpastian dapat digolongkan dalam beberapa cara yang berbeda menurut asal mereka. Dua tipe utama adalah 'ketidakpastian nilai' dan 'ketidakpastian struktural'. Nilai ketidakpastian yang timbul dari penetapan lengkap nilai-nilai tertentu atau hasil, misalnya, ketika data tidak akurat atau tidak sepenuhnya mewakili fenomena bunga. Struktural ketidakpastian timbul dari pemahaman yang tidak lengkap dari proses-proses yang mengontrol nilai-nilai tertentu atau hasil, misalnya, ketika kerangka konseptual atau model yang digunakan untuk analisis ini tidak mencakup semua proses yang relevan atau hubungan.
Ketidakpastian yang terkait dengan 'kesalahan acak' memiliki karakteristik penurunan sebagai pengukuran tambahan akumulasi, sedangkan yang berhubungan dengan 'kesalahan sistematis' tidakDalam berhubungan dengan catatan iklim, para ilmuwan memberi perhatian kepada identifikasi kesalahan sistematis atau bias yang tidak diinginkan yang timbul dari data sampling isu dan metode menganalisis dan menggabungkan data.
Untungnya, ilmu pengetahuan secara inheren mengoreksi diri; konsep ilmiah tidak benar atau tidak lengkap pada akhirnya tidak bertahan diulang pengujian terhadap pengamatan alam.
Dengan menggabungkan ketiga pendekatan yang berbeda, para ilmuwan dapat membangun sebuah gambaran yang jelas tentang kenaikan permukaan laut yang tidak akan mungkin jika masing-masing disajikan secara independen. Anda juga dapat melihat dengan pengenalan pengukuran yang akurat, tingkat kepercayaan untuk meningkatkan akurasi.
Bagaimana Iklim terakumulasi Pengetahuan
Meskipun kadang-kadang pergeseran paradigma utama, mayoritas wawasan ilmiah, bahkan wawasan tak terduga, cenderung muncul secara bertahap sebagai hasil dari upaya berulang-ulang untuk menguji hipotesis sedapat mungkin. Oleh karena itu, karena hampir setiap muka baru berdasarkan penelitian dan pemahaman yang telah terjadi sebelumnya, ilmu adalah kumulatif, dengan fitur yang berguna ditahan dan fitur non-berguna ditinggalkan. Penelitian para ilmuwan Aktif, sepanjang karir mereka, biasanya menghabiskan fraksi besar waktu mereka bekerja mempelajari secara mendalam apa yang para ilmuwan lain telah dilakukan.
Dangkal atau amatir kenalan dengan kondisi saat ini topik penelitian ilmiah merupakan penghalang bagi kemajuan ilmuwan. Kerja ilmuwan tahu bahwa hari di perpustakaan dapat menghemat satu tahun di laboratorium ketika mengukur perubahan iklim.
Pertanyaan ilmu baik bersaing pernyataan tentang perubahan iklim. Sebagai contoh, bisa pernyataan di bawah pertimbangan, pada prinsipnya, dibuktikan palsu? Has it been rigorously tested? Apakah sudah ketat diuji? Apakah hal itu muncul dalam literatur peer-review? Apakah itu membangun catatan penelitian yang ada mana yang tepat? Jika jawaban untuk semua pertanyaan ini adalah tidak, maka kurang kepercayaan harus diberikan kepada pernyataan sampai diuji dan diverifikasi secara independen.
Ketidakpastian Mengukur Perubahan Iklim
Sejarah abad-upaya panjang untuk mendokumentasikan dan memahami perubahan iklim sering kompleks, ditandai dengan keberhasilan dan kegagalan, dan telah mengikuti kecepatan yang sangat tidak merata. Pengujian temuan ilmiah dan secara terbuka mendiskusikan hasil tes telah menjadi kunci kemajuan luar biasa yang sekarang mempercepat dalam semua domain, meskipun keterbatasan kapasitas prediktif. Perubahan iklim ilmu pengetahuan sekarang memberikan kontribusi dasar pendekatan interdisipliner baru untuk memahami lingkungan kita. Akibatnya, banyak diterbitkan penelitian dan banyak kemajuan ilmiah terkemuka telah terjadi dalam beberapa dekade terakhir, termasuk kemajuan dalam pemahaman dan pengobatan ketidakpastian.
Ketidakpastian dapat digolongkan dalam beberapa cara yang berbeda menurut asal mereka. Dua tipe utama adalah 'ketidakpastian nilai' dan 'ketidakpastian struktural'. Nilai ketidakpastian yang timbul dari penetapan lengkap nilai-nilai tertentu atau hasil, misalnya, ketika data tidak akurat atau tidak sepenuhnya mewakili fenomena bunga. Struktural ketidakpastian timbul dari pemahaman yang tidak lengkap dari proses-proses yang mengontrol nilai-nilai tertentu atau hasil, misalnya, ketika kerangka konseptual atau model yang digunakan untuk analisis ini tidak mencakup semua proses yang relevan atau hubungan.
Ketidakpastian yang terkait dengan 'kesalahan acak' memiliki karakteristik penurunan sebagai pengukuran tambahan akumulasi, sedangkan yang berhubungan dengan 'kesalahan sistematis' tidakDalam berhubungan dengan catatan iklim, para ilmuwan memberi perhatian kepada identifikasi kesalahan sistematis atau bias yang tidak diinginkan yang timbul dari data sampling isu dan metode menganalisis dan menggabungkan data.
Untungnya, ilmu pengetahuan secara inheren mengoreksi diri; konsep ilmiah tidak benar atau tidak lengkap pada akhirnya tidak bertahan diulang pengujian terhadap pengamatan alam.
Sabtu, 27 November 2010
The Top 100 Effects of Global Warming
Global Warming Wrecks All the Fun
Say Goodbye to French Wines
Wacky temperatures and rain cycles brought on by global warming are threatening something very important: Wine. Scientists believe global warming will “shift viticultural regions toward the poles, cooler coastal zones and higher elevations.” What that means in regular language: Get ready to say bye-bye to French Bordeaux and hello to British champagne. [LA Times]
Say Goodbye to Light and Dry Wines
Warmer temperatures mean grapes in California and France develop their sugars too quickly, well before their other flavors. As a result, growers are forced to either a) leave the grapes on the vines longer, which dramatically raises the alcoholic content of the fruit or b) pick the grapes too soon and make overly sweet wine that tastes like jam. [Washington Post]
Say Goodbye to Pinot Noir
The reason you adore pinot noir is that it comes from a notoriously temperamental thin-skinned grape that thrives in cool climates. Warmer temperatures are already damaging the pinots from Oregon, “baking away” the grape’s berry flavors. [Bloomberg]
Say Goodbye to Baseball
The future of the ash tree—from which all baseball bats are made—is in danger of disappearing, thanks to a combination of killer beetles and global warming. [NY Times]
Say Goodbye to Christmas Trees
The Pine Bark Beetle, which feeds on and kills pine trees, used to be held in control by cold winter temperatures. Now the species is thriving and killing off entire forests in British Columbia, unchecked. [Seattle Post Intelligencer]
Say Goodbye to the Beautiful Alaska Vacation
Warmer weather allowed Spruce Bark Beetles to live longer, hardier lives in the forests of Kenai Peninsula in Alaska, where they killed off a section of spruce forest the size of Connecticut. [Alaska Science Forum]
Say Goodbye to Fly Fishing
As water temperatures continue to rise, researchers say rainbow trout, "already at the southern limits” of their temperature ranges in the Appalachian mountains, could disappear there over the next century. [Softpedia]
Say Goodbye to Ski Competitions
Unusually warmer winters caused the International Ski Federation to cancel last year’s Alpine skiing World Cup and opening races in Sölden, Austria. Skiers are also hard-pressed now to find places for year-round training. Olympic gold medalist Anja Paerson: “Of course we’re all very worried about the future of our sport. Every year we have more trouble finding places to train.” [NY Times]
Say Goodbye to Ski Vacations
Slopes on the East Coast last year closed months ahead of time due to warmer weather, some losing as much as a third of their season. [Washington Post]
Say Hello to Really Tacky Fake Ski Vacations
Weiner Air Force and former House Majority Leader Dick Armey are building a year-round ski resort in Texas, with “wet, white Astroturf with bristles” standing in for snow to make up for all the closed resorts around the country. [WSJ]
Say Goodbye to That Snorkeling Vacation
The elkhorn coral which used to line the floor of the Caribbean are nearly gone, “victims of pollution, warmer water and acidification from the greenhouse gas carbon dioxide seeping into oceans.” [Denver Post]
Say Goodbye to That Tropical Island Vacation
Indonesia's environment minister announced this year that scientific studies estimate about 2,000 of the country's lush tropical islands could disappear by 2030 due to rising sea levels. [ABC News]
Say Goodbye to Cool Cultural Landmarks
The World Monuments Fund recently added “global warming” as a threat in their list of the top 100 threatened cultural landmarks. “On Herschel Island, Canada, melting permafrost threatens ancient Inuit sites and a historic whaling town. In Chinguetti, Mauritania, the desert is encroaching on an ancient mosque. In Antarctica, a hut once used by British explorer Captain Robert Falcon Scott has survived almost a century of freezing conditions but is now in danger of being engulfed by increasingly heavy snows.” [AP]
Say Goodbye to Salmon Dinners
Get ready for a lot more chicken dinners: Wild pacific salmon have already vanished from 40 percent of their traditional habitats in the Northwest and the NRDC warns warmer temperatures are going to erase 41 percent of their habitat by 2090. [ENS]
Say Goodbye to Lobster Dinners
Lobsters thrive in the chilly waters of New England, but recent numbers show that as those waters have warmed up, “the big-clawed American lobster—prized for its delicate, sweet flesh—has been withering at an alarming rate from New York state to Massachusetts.” [AP]
Say Goodbye to Discoveries of Sharks That Can Walk
Scientists recently revealed a “lost world” of marine life off the coast of Indonesia, including 20 new species of corals, 8 species of shrimp, a technicolor fish that “flashes” bright pink, yellow, blue, and green hues, and sharks that “walk” on their fins. (“Avon Lady. Candygram.”) However, marine biologists warn the threats posed by global warming means millions of other crazycool sea creatures may become extinct before we ever discover them. [ABC]
Say Goodbye to Meadows of Wildflowers
Scientists think global warming could wipe out a fifth of the wildflower species in the western United States. They’ll be replaced by dominant grasses. [National Wildlife Federation]
Say Goodbye to Guacamole
Scientists from the Lawrence Livermore National Laboratory predict hotter temps will cause a 40 percent drop in California’s avocado production over the next 40 years. [Lawrence Livermore National Lab]
Say Goodbye to Mixed Nuts
Guess you’ll have to start eating pretzels at the bar instead: Scientists from the Lawrence Livermore National Laboratory predict hotter temps will cause a 20 percent drop in California’s almond and walnut crops over the next 40 years. [Science Daily]
Say Goodbye to French Fries
Scientists from the Consultative Group on International Agricultural Research say warmer temperatures are killing off wild relatives of potato and peanut plants, “threatening a valuable source of genes necessary to help these food crops fight pests and drought.” [AP]
Say Goodbye to Your Pretty Lawn
Thanks to global warming, dandelions will grow “taller, lusher, and more resilient.” By 2100, the weed will produce 32 percent more seeds and longer hairs, which allow them to spread further in the wind. [LA Times]
Say Hello to More Mosquitoes
Get ready for more mosquitoes. Mosquitoes like to live in drains and sewer puddles. During long dry spells (brought on by higher temperatures) these nasty, stagnant pools become a vital source of water for thirsty birds ... which provide a tasty feast for the resident mosquitoes. At the same time, these dry spells “reduce the populations of dragonflies, lacewings, and frogs that eat the mosquitoes.” [Washington Post]
Say Hello to Poison Ivy
You’re gonna need an ocean of calamine lotion. Increased CO2 levels cause poison ivy and other weeds to grow “taller, lusher, and more resilient.” [LA Times]
Say Hello to Bulgarian Hooker Shortages
“Brothel owners in Bulgaria are blaming global warming for staff shortages. They claim their best girls are working in ski resorts because a lack of snow has forced tourists to seek other pleasures.” [Metro UK]
Global Warming Kills the Animals
Species Disappear
The latest report from the World Conservation Union says that a minimum of 40 percent of the world’s species are being threatened ... and global warming’s one of the main culprits. [Reuters]
Cannibalistic Polar Bears...
As longer seasons without ice keep polar bears away from food, they start eating each other. [AP]
...And Dying Polar Bears
A recent study completed by the U.S. Geological Survey shows that cannibalism—while brutal—may be the least of the bear’s problems. Many are also drowning, unable to swim in the increased spaces between melting sea ice. Two-thirds of them may be gone by 2050. [National Geographic] [Mongo Bay]
More Bear Attacks
Earlier this year, Moscow warned its citizens to beware of brown bear attacks. In Russia, it’s been too hot in the winter for bears to sleep. When bears can’t hibernate, they get very grouchy and become “unusually aggressive.”[Der Spiegel]
Dying Gray Whales
Save the whales! Global warming is thwarting majestic gray whales’ struggle to recover from their endangered status. In recent years, more gray whales have been washing up on beaches after starving to death. Culprit: Rising ocean temps, which are killing off their food supply. [Washington Post]
Death March of the Penguins
Scientists blame global warming for the declining penguin population, as warmer waters and smaller ice floes force the birds to travel further to find food. “Emperor penguins ... have dropped from 300 breeding pairs to just nine in the western Antarctic Peninsula.” [National Geographic] [MSNBC]
Farewell to Frogs
An estimated two-thirds of the 110 known species of harlequin frog in Central and South America have vanished since the 1980s due to the outbreak of a deadly frog fungus ... brought on by global warming. Scientist J. Allen Pound: "Disease is the bullet killing frogs, but climate change is pulling the trigger.” [National Geographic]
Farewell to the Arctic Fox
The White Arctic Fox used to rule the colder climes, but as temperatures warm up, its more aggressive cousin, the Red Fox, is moving North and taking over. [Wired]
Farewell to the Walrus
Walrus pups rest on sea ice while their mothers hunt for food. A new study shows more and more abandoned pups are being stranded on floating islands as ice islands melt. Also, sadly, mother walruses are abandoning them to follow the ice further north. [Mongo Bay]
Farewell to Cute Koala Bears
Australia’s Climate Action Network reports that higher temperatures are killing off eucalyptus trees while higher levels of CO2 in the atmosphere are decreasing the nutritional value of the eucalyptus leaves Koala bears eat. They warn that the cute furry creatures could become extinct in the next few decades. [Science]
Jellyfish Attack
Ouch! At least 30,000 people were stung by jellyfish along the Mediterranean coast last year; some areas boasted more than 10 jellyfish per square foot of water. Thank global warming: Jellyfish generally stay out of the way of swimmers, preferring the warmer, saltier water of the open seas. Hotter temperatures erase the natural temperature barrier between the open sea and the shore. The offshore waters also become more saline, causing the stinging blobs of hurt to move in toward the coastlines (and your unsuspecting legs). [BBC]
Giant Squid Attack
Giant squid—an “aggressive predator” that grows up to 7 feet long and can weigh more than 110 lbs—used to only be found in the warm waters along the Pacific equator. Hotter waters mean today they’re invading the waters of California and even Alaska. [ABC]
Homeless Sheep, Goats, and Bears
Bighorn sheep, mountain goats, and grizzly bears are becoming homeless, due to the disappearance of the alpine meadows in Glacier National Park. [AP]
Homeless Deer and Marsh Rabbits
The deer and marsh rabbits in the Florida Keys also face a housing crisis, as water levels rise and warmer temperatures destroy coastal prairies and freshwater marsh habitats. [AP]
Gender-Bended Lizards
Scientists in Australia found warmer temperatures caused baby bearded dragon lizards to change from males to females while still in their eggs, making it harder for them to find mates. Trippy. [ABC AU]
More Stray Kitties
Global warming has extended the cat-breeding season beyond spring, which is the usual time for a kitten boom. The kittens are often homeless and end up in animal shelters. And remember, “The trouble with a kitten is that/ Eventually it becomes a cat.” [NBC-10: Philadelphia] [Ogden Nash]
Suffocating the Lemmings
Lemmings like to burrow under the snow when they hibernate for the winter. Warmer temperatures cause rain to fall during the winter months, where it freezes into a hard sheet of ice above the sleeping lemmings, who can’t crack their way out come spring. [Denver Post]
Goodbye to Cod
Cod in the North Sea are dying out. The warmer waters kill off the plankton the cod eat, making those ones that survive smaller. The warmer waters also mean the poor dears have become “less successful at mating and reproducing.” [MSNBC]
Birds around the World
Recent research found that “up to 72 percent of bird species in northeastern Australia and more than a third in Europe could go extinct due to global warming.” [Monga Bay]
Birds on the Coast
Hundreds of Pacific seabirds—such as common murres, auklets, and tufted puffins—washed ashore last year after starving to death. Scientists blame global warming which led to less plankton, which led to fewer small fish for the birds to eat. [San Francisco Chronicle]
Birds in your Backyard
A report by the National Audubon Society found that birds such as the bobwhite and field sparrow are dying thanks to global warming, as higher temperatures mess with their migration schedules. With vital food stocks peaking earlier and earlier, many migratory birds get to the party too late and can’t find enough to eat. [CNN] [ABC News]
Death to a Snail
The Aldabra banded snail is officially extinct. Existing only on an atoll 426 kilometers northwest of the northern tip of Madagascar, the snail died out after warmer weather cut the rainfall in its habitat. [Monga Bay]
Global Warming Kills the Planet
Greenland’s Melting
Greenland is melting at a rate of 52 cubic miles per year—much faster than once predicted. If Greenland’s entire 2.5 million cubic kilometers of ice were to melt, it would lead to a global sea level rise of 7.2 meters, or more than 23 feet. [LA Times]
Less Ice in the Arctic
The amount of ice in the Arctic at the end of the 2005 summer “was the smallest seen in 27 years of satellite imaging, and probably the smallest in 100 years.” Experts said it’s the strongest evidence of global warming in the Arctic thus far. [Washington Post]
The Northwest Passage Becomes a Reality
Remember the “Northwest Passage”? For centuries, explorers were obsessed with the almost-mythical idea of northern sea route connecting the Atlantic and Pacific. Well...it’s here. So much of the ice cover in the Arctic disappeared this summer that ships were able to take recreational trips through the Arctic Sea, and scientists say so much of the ice cover will disappear in upcoming years that the passage could be open to commercial shipping by 2020. [CNN]
Ice Shelf in Antarctica Bites the Dust
In 2002, a chunk of ice in Antarctica larger than the state of Rhode Island collapsed into the sea. British and Belgian scientists said the chunk was weakened by warm winds blowing over the shelf ... and that the winds were caused by global warming. [ENS]
Ice Shelf in Canada Bites the Dust
In 2005, a giant chunk of ice the size of Manhattan broke off of a Canadian ice shelf and began free floating westward, putting oil drilling operations in peril. [Reuters]
Say Farewell to Glaciers
“In Glacier National Park, the number of glaciers in the park has dropped from 150 to 26 since 1850. Some project that none will be left within 25 to 30 years.” [AP]
The Green, Green Grass of Antarctica
Grass has started to grow in Antarctica in areas formerly covered by ice sheets and glaciers. While Antarctic hair grass has grown before in isolated tufts, warmer temperatures allow it to take over larger and larger areas and, for the first time, survive through the winter. [UK Times]
The Swiss Foothills
Late last summer, a rock the size of two Empire State Buildings in the Swiss Alps collapsed onto the canyon floor nearly 700 feet below. The reason? Melting glaciers. [MSNBC]
Giant “Sand Seas” in Africa
Global warming may unleash giant “sand seas” in Africa—giant fields of sand dunes with no vegetation—as a shortage of rainfall and increasing winds may “reactivate” the now-stable Kalahari dune fields. That means farewell to local vegetation, animals, and any tourism in the areas. [National Geographic]
Florida’s National Marine Sanctuary in Trouble
Global warming is “bleaching” the coral in the Florida Keys National Marine Sanctuary, killing the coral, tourism, and local fish that live among the coral for protection. [Washington Post]
The Oceans are Turning to Acid
It sounds like a really bad sci-fi movie, but it’s true: The oceans are turning to acid! Oceans absorb CO2 which, when mixed with seawater, turns to a weak carbonic acid. Calcium from eroded rocks creates a “natural buffer” against the acid, and most marine life is “finely tuned” to the current balance. As we produce more and more CO2, we throw the whole balance out of whack and the oceans turn to acid. [CS Monitor]
Say Goodbye to the Great Barrier Reef
According to the U.N., the Great Barrier Reef will disappear within decades as “warmer, more acidic seas could severely bleach coral in the world-famous reef as early as 2030.” [CBC News]
Mediterranean Sea? Try the Dead Sea.
Italian experts say thanks to faster evaporation and rising temperatures, the Mediterranean Sea is quickly turning into “a salty and stagnant sea.” The hot, salty water “could doom many of the sea's plant and animal species and ravage the fishing industry.” [AP]
A Sacred River Dries Up
The sacred Ganges River in India is beginning to run dry. The Ganges is fed by the Gangotri glacier, which is today “shrinking at a rate of 40 yards a year, nearly twice as fast as two decades ago.” Scientists warn the glacier could be gone as soon as 2030. [Washington Post]
Disappearing African Rivers
Geologists recently projected a 10 percent to 20 percent drop in rainfall in northwestern and southern Africa by 2070. That would leave Botswana with just 23 percent of the river it has now; Cape Town would be left with just 42 percent of its river water. [National Geographic]
Suddenly Vanishing Lakes
What happened to the five-acre glacial lake in Southern Chile? In March, it was there. In May, it was ... gone. Scientists blame global warming. [BBC News]
Goodbye to the Mangrove Trees
Next on the global warming hit list: Rising sea levels linked to climate change mean we could lose half of the mangrove trees of the Pacific Isles by the end of the century. [UNEP]
Volcanoes Blow Their Tops
British scientists warn of another possible side effect of climate change: A surge of dangerous volcanic eruptions. [ABC News Australia]
More Hurricanes
Over the past century, the number of hurricanes that strike each year has more than doubled. Scientists blame global warming and the rising temperature of the surface of the seas. [USA Today]
More Floods
During the summer of 2007, Britain suffered its worst flood in 60 years. Scientists point the finger directly at global warming, which changed precipitation patterns and is now causing more “intense rainstorms across parts of the northern hemisphere.” [Independent]
More Fires
Hotter temperatures could also mean larger and more devastating wildfires. This past summer in California, a blaze consumed more than 33,500 acres, or 52 square miles.
[ABC] [AP]
More Wildfires
Global warming has also allowed non-native grasses to thrive in the Mojave Desert, where they act as fast-burning fuel for wildfires. [AP]
Thunderstorms Get Dangerous
Hurricanes aside, NASA scientists now say as the world gets hotter, even smaller thunderstorms will pose more severe risks with “deadly lightning, damaging hail and the potential for tornadoes.” [AP]
Higher Sea Levels
Scientists believe sea levels will be three feet higher by the end of the century than they are now. [National Geographic]
Burning Poo
As “shifting rainfall patterns” brought on by global warming “have made northern Senegal drier and hotter,” entire species of trees (like the Dimb Tree) are dying out, making it harder for natives to find firewood. As a result, more people are having to burn cow dung for cooking fires. [MSNBC]
A New Dust Bowl
Calling Mr. Steinbeck. Scientists this year reported the Southwest United States is "expected to dry up notably in this century and could become as arid as the North American dust bowl of the 1930s," a process which has already started. [ABC News]
Global Warming Makes Us Sicker
People Are Dying
150,000: Number of people the World Health Organization estimates are killed by climate-change-related issues every year. [Washington Post]
Heat Waves and Strokes
Authorities in China say warmer temperatures are responsible for an uptick in heat-wave associated deaths, such as strokes and heart disease. They calculated between 173 and 685 Chinese citizens per million die every year from ailments related to global warming. [MSNBC]
Death by Smog
Three words you really don’t want in your obit: “Death by Smog.” Yet Canadian doctors say smog-related deaths could rise by 80 percent over the next 20 years. And since warm air is a key ingredient in smog, warmer temperatures will increase smog levels. [CBC News]
More Heart Attacks
Doctors warn global warming will bring more cardiovascular problems, like heart attacks. “‘The hardening of the heart's arteries is like rust developing on a car,’ said Dr. Gordon Tomaselli, chief of cardiology at Johns Hopkins University. ‘Rust develops much more quickly at warm temperatures and so does atherosclerosis.’” [MSNBC]
More Mold and Ragweed = More Allergies, Asthma
A Harvard Study in 2004 showed higher concentrations of CO2 in the atmosphere is good news to allergens like mold and ragweed (they love the stuff). And that means higher rates of asthma attacks, especially in kids. [Globe and Mail]
A Resurgence In Deadly Disease
“The World Health Organization has identified more than 30 new or resurgent diseases in the last three decades, the sort of explosion some experts say has not happened since the Industrial Revolution brought masses of people together in cities.” Why? Global warming “is fueling the spread of epidemics in areas unprepared for the diseases” when “mosquitoes, ticks, mice and other carriers are surviving warmer winters and expanding their range, bringing health threats with them.” Ick. [Washington Post]
More Malaria in Africa
“A WHO report in 2000 found that warming had caused malaria to spread from three districts in western Kenya to 13 and led to epidemics of the disease in Rwanda and Tanzania.” [Washington Post]
Malaria Spreading in Western Europe
The World Health Organization warns warmer temperatures mean malaria-carrying mosquitoes are able to live in northern climes, which could lead to a surge in malaria outside the tropics (aka Europe). [BBC]
Malaria Spreading in South America
Thanks to global warming, “Malaria has spread to higher altitudes in places like the Colombian Andes, 7,000 feet above sea level.” [An Inconvenient Truth]
Malaria Spreading in Russia
Russians found larvae of the anopheles mosquito, the malaria carrier, for the first time in Moscow last September. [BBC]
Spread of Dengue Fever
Scientists predict warmer temperatures will allow mosquitoes carrying Dengue Fever to travel outside the tropics. Since people in cooler climes lack immunity from previous exposure, that means transmission would be extensive. You get a severe fever, you start spontaneously bleeding, you can die. There is no vaccine. [Science Daily]
Death in the Time of Cholera
Cholera, which thrives in warmer water, appeared in the newly warmed waters of South America in 1991 for the first time in the 20th century. “It swept from Peru across the continent and into Mexico, killing more than 10,000 people.” [Washington Post]
Spread of Lyme Disease
Cold weather no longer kills ticks that carry Lyme Disease. Ticks recently began spreading along the coastlines of Scandinavia, which formerly was too cold for them to survive. Cases of Lyme Disease in the area have doubled since the late 1990s. [MSNBC]
West Nile Virus Home Invasion
Once confined to land near the equator, West Nile Virus is now found as far north as Canada. Seven years ago, West Nile virus had never been seen in North America; today, it has “infected more than 21,000 people in the United States and Canada and killed more than 800.” [Washington Post]
Global Warming Threatens Our National Security
IISS: “A Global Catastrophe” For International Security
A recent study done by the International Institute for Strategic Studies has likened the international security effects of global warming to those caused by nuclear war. [On Deadline]
U.N.: As Dangerous As War
United Nations Secretary General Ban Ki-moon said this year that global warming poses as much of a threat to the world as war. [BBC]
Center for Naval Analyses: National Security Threat
In April, a report completed by the Center for Naval Analyses predicted that global warming would cause “large-scale migrations, increased border tensions, the spread of disease and conflicts over food and water.” [Seattle Post-Intelligencer]
Genocide in Sudan
UN Secretary General Ban Ki-moon charges, “Amid the diverse social and political causes, the Darfur conflict began as an ecological crisis, arising at least in part from climate change.” [Washington Post]
War in Somalia
In April, a group of 11 former U.S. military leaders released a report charging that the war in Somalia during the 1990s stemmed in part from national resource shortages caused by global warming. [Washington Post]
Starvation
A study by IISS found that reduced water supplies and hotter temperatures mean “65 countries were likely to lose over 15 percent of their agricultural output by 2100.” [Yahoo]
Large-Scale Migrations
Global warming will turn already-dry environments into deserts, causing the people who live there to migrate in massive numbers to more livable places. [MSNBC]
More Refugees
A study by the relief group Christian Aid estimates the number of refugees around the world will top a billion by 2050, thanks in large part to global warming. [Telegraph]
Increased Border Tensions
A report called “National Security and the Threat of Climate Change,” written by a group of retired generals and admirals, specifically linked global warming to increased border tensions. “If, as some project, sea levels rise, human migrations may occur, likely both within and across borders.” [NY Times]
Famine
“Developing countries, many with average temperatures that are already near or above crop tolerance levels, are predicted to suffer an average 10 to 25 percent decline in agricultural productivity by the 2080s.” [Economic Times]
Droughts
Global warming will cause longer, more devastating droughts, thus exacerbating the fight over the world’s water. [Washington Post]
The Poor Are Most at Risk
Although they produce low amounts of greenhouse gases, experts say under-developed countries—such as those in sub-Saharan Africa—have “the most to lose under dire predictions of wrenching change in weather patterns.” [Washington Post]
Your Checkbook
A report done last year by the British government showed global warming could cause a Global Great Depression, costing the world up to 20 percent of its annual Global Domestic Product. [Washington Post]
The World’s Checkbook
A study by the Global Development and Environment Institute at Tufts University found that ignoring global warming would end up costing $20 trillion by 2100. [Tufts]
This piece is from the Center for American Progress Action Fund's Mic Check Radio.
Say Goodbye to French Wines
Wacky temperatures and rain cycles brought on by global warming are threatening something very important: Wine. Scientists believe global warming will “shift viticultural regions toward the poles, cooler coastal zones and higher elevations.” What that means in regular language: Get ready to say bye-bye to French Bordeaux and hello to British champagne. [LA Times]
Say Goodbye to Light and Dry Wines
Warmer temperatures mean grapes in California and France develop their sugars too quickly, well before their other flavors. As a result, growers are forced to either a) leave the grapes on the vines longer, which dramatically raises the alcoholic content of the fruit or b) pick the grapes too soon and make overly sweet wine that tastes like jam. [Washington Post]
Say Goodbye to Pinot Noir
The reason you adore pinot noir is that it comes from a notoriously temperamental thin-skinned grape that thrives in cool climates. Warmer temperatures are already damaging the pinots from Oregon, “baking away” the grape’s berry flavors. [Bloomberg]
Say Goodbye to Baseball
The future of the ash tree—from which all baseball bats are made—is in danger of disappearing, thanks to a combination of killer beetles and global warming. [NY Times]
Say Goodbye to Christmas Trees
The Pine Bark Beetle, which feeds on and kills pine trees, used to be held in control by cold winter temperatures. Now the species is thriving and killing off entire forests in British Columbia, unchecked. [Seattle Post Intelligencer]
Say Goodbye to the Beautiful Alaska Vacation
Warmer weather allowed Spruce Bark Beetles to live longer, hardier lives in the forests of Kenai Peninsula in Alaska, where they killed off a section of spruce forest the size of Connecticut. [Alaska Science Forum]
Say Goodbye to Fly Fishing
As water temperatures continue to rise, researchers say rainbow trout, "already at the southern limits” of their temperature ranges in the Appalachian mountains, could disappear there over the next century. [Softpedia]
Say Goodbye to Ski Competitions
Unusually warmer winters caused the International Ski Federation to cancel last year’s Alpine skiing World Cup and opening races in Sölden, Austria. Skiers are also hard-pressed now to find places for year-round training. Olympic gold medalist Anja Paerson: “Of course we’re all very worried about the future of our sport. Every year we have more trouble finding places to train.” [NY Times]
Say Goodbye to Ski Vacations
Slopes on the East Coast last year closed months ahead of time due to warmer weather, some losing as much as a third of their season. [Washington Post]
Say Hello to Really Tacky Fake Ski Vacations
Weiner Air Force and former House Majority Leader Dick Armey are building a year-round ski resort in Texas, with “wet, white Astroturf with bristles” standing in for snow to make up for all the closed resorts around the country. [WSJ]
Say Goodbye to That Snorkeling Vacation
The elkhorn coral which used to line the floor of the Caribbean are nearly gone, “victims of pollution, warmer water and acidification from the greenhouse gas carbon dioxide seeping into oceans.” [Denver Post]
Say Goodbye to That Tropical Island Vacation
Indonesia's environment minister announced this year that scientific studies estimate about 2,000 of the country's lush tropical islands could disappear by 2030 due to rising sea levels. [ABC News]
Say Goodbye to Cool Cultural Landmarks
The World Monuments Fund recently added “global warming” as a threat in their list of the top 100 threatened cultural landmarks. “On Herschel Island, Canada, melting permafrost threatens ancient Inuit sites and a historic whaling town. In Chinguetti, Mauritania, the desert is encroaching on an ancient mosque. In Antarctica, a hut once used by British explorer Captain Robert Falcon Scott has survived almost a century of freezing conditions but is now in danger of being engulfed by increasingly heavy snows.” [AP]
Say Goodbye to Salmon Dinners
Get ready for a lot more chicken dinners: Wild pacific salmon have already vanished from 40 percent of their traditional habitats in the Northwest and the NRDC warns warmer temperatures are going to erase 41 percent of their habitat by 2090. [ENS]
Say Goodbye to Lobster Dinners
Lobsters thrive in the chilly waters of New England, but recent numbers show that as those waters have warmed up, “the big-clawed American lobster—prized for its delicate, sweet flesh—has been withering at an alarming rate from New York state to Massachusetts.” [AP]
Say Goodbye to Discoveries of Sharks That Can Walk
Scientists recently revealed a “lost world” of marine life off the coast of Indonesia, including 20 new species of corals, 8 species of shrimp, a technicolor fish that “flashes” bright pink, yellow, blue, and green hues, and sharks that “walk” on their fins. (“Avon Lady. Candygram.”) However, marine biologists warn the threats posed by global warming means millions of other crazycool sea creatures may become extinct before we ever discover them. [ABC]
Say Goodbye to Meadows of Wildflowers
Scientists think global warming could wipe out a fifth of the wildflower species in the western United States. They’ll be replaced by dominant grasses. [National Wildlife Federation]
Say Goodbye to Guacamole
Scientists from the Lawrence Livermore National Laboratory predict hotter temps will cause a 40 percent drop in California’s avocado production over the next 40 years. [Lawrence Livermore National Lab]
Say Goodbye to Mixed Nuts
Guess you’ll have to start eating pretzels at the bar instead: Scientists from the Lawrence Livermore National Laboratory predict hotter temps will cause a 20 percent drop in California’s almond and walnut crops over the next 40 years. [Science Daily]
Say Goodbye to French Fries
Scientists from the Consultative Group on International Agricultural Research say warmer temperatures are killing off wild relatives of potato and peanut plants, “threatening a valuable source of genes necessary to help these food crops fight pests and drought.” [AP]
Say Goodbye to Your Pretty Lawn
Thanks to global warming, dandelions will grow “taller, lusher, and more resilient.” By 2100, the weed will produce 32 percent more seeds and longer hairs, which allow them to spread further in the wind. [LA Times]
Say Hello to More Mosquitoes
Get ready for more mosquitoes. Mosquitoes like to live in drains and sewer puddles. During long dry spells (brought on by higher temperatures) these nasty, stagnant pools become a vital source of water for thirsty birds ... which provide a tasty feast for the resident mosquitoes. At the same time, these dry spells “reduce the populations of dragonflies, lacewings, and frogs that eat the mosquitoes.” [Washington Post]
Say Hello to Poison Ivy
You’re gonna need an ocean of calamine lotion. Increased CO2 levels cause poison ivy and other weeds to grow “taller, lusher, and more resilient.” [LA Times]
Say Hello to Bulgarian Hooker Shortages
“Brothel owners in Bulgaria are blaming global warming for staff shortages. They claim their best girls are working in ski resorts because a lack of snow has forced tourists to seek other pleasures.” [Metro UK]
Global Warming Kills the Animals
Species Disappear
The latest report from the World Conservation Union says that a minimum of 40 percent of the world’s species are being threatened ... and global warming’s one of the main culprits. [Reuters]
Cannibalistic Polar Bears...
As longer seasons without ice keep polar bears away from food, they start eating each other. [AP]
...And Dying Polar Bears
A recent study completed by the U.S. Geological Survey shows that cannibalism—while brutal—may be the least of the bear’s problems. Many are also drowning, unable to swim in the increased spaces between melting sea ice. Two-thirds of them may be gone by 2050. [National Geographic] [Mongo Bay]
More Bear Attacks
Earlier this year, Moscow warned its citizens to beware of brown bear attacks. In Russia, it’s been too hot in the winter for bears to sleep. When bears can’t hibernate, they get very grouchy and become “unusually aggressive.”[Der Spiegel]
Dying Gray Whales
Save the whales! Global warming is thwarting majestic gray whales’ struggle to recover from their endangered status. In recent years, more gray whales have been washing up on beaches after starving to death. Culprit: Rising ocean temps, which are killing off their food supply. [Washington Post]
Death March of the Penguins
Scientists blame global warming for the declining penguin population, as warmer waters and smaller ice floes force the birds to travel further to find food. “Emperor penguins ... have dropped from 300 breeding pairs to just nine in the western Antarctic Peninsula.” [National Geographic] [MSNBC]
Farewell to Frogs
An estimated two-thirds of the 110 known species of harlequin frog in Central and South America have vanished since the 1980s due to the outbreak of a deadly frog fungus ... brought on by global warming. Scientist J. Allen Pound: "Disease is the bullet killing frogs, but climate change is pulling the trigger.” [National Geographic]
Farewell to the Arctic Fox
The White Arctic Fox used to rule the colder climes, but as temperatures warm up, its more aggressive cousin, the Red Fox, is moving North and taking over. [Wired]
Farewell to the Walrus
Walrus pups rest on sea ice while their mothers hunt for food. A new study shows more and more abandoned pups are being stranded on floating islands as ice islands melt. Also, sadly, mother walruses are abandoning them to follow the ice further north. [Mongo Bay]
Farewell to Cute Koala Bears
Australia’s Climate Action Network reports that higher temperatures are killing off eucalyptus trees while higher levels of CO2 in the atmosphere are decreasing the nutritional value of the eucalyptus leaves Koala bears eat. They warn that the cute furry creatures could become extinct in the next few decades. [Science]
Jellyfish Attack
Ouch! At least 30,000 people were stung by jellyfish along the Mediterranean coast last year; some areas boasted more than 10 jellyfish per square foot of water. Thank global warming: Jellyfish generally stay out of the way of swimmers, preferring the warmer, saltier water of the open seas. Hotter temperatures erase the natural temperature barrier between the open sea and the shore. The offshore waters also become more saline, causing the stinging blobs of hurt to move in toward the coastlines (and your unsuspecting legs). [BBC]
Giant Squid Attack
Giant squid—an “aggressive predator” that grows up to 7 feet long and can weigh more than 110 lbs—used to only be found in the warm waters along the Pacific equator. Hotter waters mean today they’re invading the waters of California and even Alaska. [ABC]
Homeless Sheep, Goats, and Bears
Bighorn sheep, mountain goats, and grizzly bears are becoming homeless, due to the disappearance of the alpine meadows in Glacier National Park. [AP]
Homeless Deer and Marsh Rabbits
The deer and marsh rabbits in the Florida Keys also face a housing crisis, as water levels rise and warmer temperatures destroy coastal prairies and freshwater marsh habitats. [AP]
Gender-Bended Lizards
Scientists in Australia found warmer temperatures caused baby bearded dragon lizards to change from males to females while still in their eggs, making it harder for them to find mates. Trippy. [ABC AU]
More Stray Kitties
Global warming has extended the cat-breeding season beyond spring, which is the usual time for a kitten boom. The kittens are often homeless and end up in animal shelters. And remember, “The trouble with a kitten is that/ Eventually it becomes a cat.” [NBC-10: Philadelphia] [Ogden Nash]
Suffocating the Lemmings
Lemmings like to burrow under the snow when they hibernate for the winter. Warmer temperatures cause rain to fall during the winter months, where it freezes into a hard sheet of ice above the sleeping lemmings, who can’t crack their way out come spring. [Denver Post]
Goodbye to Cod
Cod in the North Sea are dying out. The warmer waters kill off the plankton the cod eat, making those ones that survive smaller. The warmer waters also mean the poor dears have become “less successful at mating and reproducing.” [MSNBC]
Birds around the World
Recent research found that “up to 72 percent of bird species in northeastern Australia and more than a third in Europe could go extinct due to global warming.” [Monga Bay]
Birds on the Coast
Hundreds of Pacific seabirds—such as common murres, auklets, and tufted puffins—washed ashore last year after starving to death. Scientists blame global warming which led to less plankton, which led to fewer small fish for the birds to eat. [San Francisco Chronicle]
Birds in your Backyard
A report by the National Audubon Society found that birds such as the bobwhite and field sparrow are dying thanks to global warming, as higher temperatures mess with their migration schedules. With vital food stocks peaking earlier and earlier, many migratory birds get to the party too late and can’t find enough to eat. [CNN] [ABC News]
Death to a Snail
The Aldabra banded snail is officially extinct. Existing only on an atoll 426 kilometers northwest of the northern tip of Madagascar, the snail died out after warmer weather cut the rainfall in its habitat. [Monga Bay]
Global Warming Kills the Planet
Greenland’s Melting
Greenland is melting at a rate of 52 cubic miles per year—much faster than once predicted. If Greenland’s entire 2.5 million cubic kilometers of ice were to melt, it would lead to a global sea level rise of 7.2 meters, or more than 23 feet. [LA Times]
Less Ice in the Arctic
The amount of ice in the Arctic at the end of the 2005 summer “was the smallest seen in 27 years of satellite imaging, and probably the smallest in 100 years.” Experts said it’s the strongest evidence of global warming in the Arctic thus far. [Washington Post]
The Northwest Passage Becomes a Reality
Remember the “Northwest Passage”? For centuries, explorers were obsessed with the almost-mythical idea of northern sea route connecting the Atlantic and Pacific. Well...it’s here. So much of the ice cover in the Arctic disappeared this summer that ships were able to take recreational trips through the Arctic Sea, and scientists say so much of the ice cover will disappear in upcoming years that the passage could be open to commercial shipping by 2020. [CNN]
Ice Shelf in Antarctica Bites the Dust
In 2002, a chunk of ice in Antarctica larger than the state of Rhode Island collapsed into the sea. British and Belgian scientists said the chunk was weakened by warm winds blowing over the shelf ... and that the winds were caused by global warming. [ENS]
Ice Shelf in Canada Bites the Dust
In 2005, a giant chunk of ice the size of Manhattan broke off of a Canadian ice shelf and began free floating westward, putting oil drilling operations in peril. [Reuters]
Say Farewell to Glaciers
“In Glacier National Park, the number of glaciers in the park has dropped from 150 to 26 since 1850. Some project that none will be left within 25 to 30 years.” [AP]
The Green, Green Grass of Antarctica
Grass has started to grow in Antarctica in areas formerly covered by ice sheets and glaciers. While Antarctic hair grass has grown before in isolated tufts, warmer temperatures allow it to take over larger and larger areas and, for the first time, survive through the winter. [UK Times]
The Swiss Foothills
Late last summer, a rock the size of two Empire State Buildings in the Swiss Alps collapsed onto the canyon floor nearly 700 feet below. The reason? Melting glaciers. [MSNBC]
Giant “Sand Seas” in Africa
Global warming may unleash giant “sand seas” in Africa—giant fields of sand dunes with no vegetation—as a shortage of rainfall and increasing winds may “reactivate” the now-stable Kalahari dune fields. That means farewell to local vegetation, animals, and any tourism in the areas. [National Geographic]
Florida’s National Marine Sanctuary in Trouble
Global warming is “bleaching” the coral in the Florida Keys National Marine Sanctuary, killing the coral, tourism, and local fish that live among the coral for protection. [Washington Post]
The Oceans are Turning to Acid
It sounds like a really bad sci-fi movie, but it’s true: The oceans are turning to acid! Oceans absorb CO2 which, when mixed with seawater, turns to a weak carbonic acid. Calcium from eroded rocks creates a “natural buffer” against the acid, and most marine life is “finely tuned” to the current balance. As we produce more and more CO2, we throw the whole balance out of whack and the oceans turn to acid. [CS Monitor]
Say Goodbye to the Great Barrier Reef
According to the U.N., the Great Barrier Reef will disappear within decades as “warmer, more acidic seas could severely bleach coral in the world-famous reef as early as 2030.” [CBC News]
Mediterranean Sea? Try the Dead Sea.
Italian experts say thanks to faster evaporation and rising temperatures, the Mediterranean Sea is quickly turning into “a salty and stagnant sea.” The hot, salty water “could doom many of the sea's plant and animal species and ravage the fishing industry.” [AP]
A Sacred River Dries Up
The sacred Ganges River in India is beginning to run dry. The Ganges is fed by the Gangotri glacier, which is today “shrinking at a rate of 40 yards a year, nearly twice as fast as two decades ago.” Scientists warn the glacier could be gone as soon as 2030. [Washington Post]
Disappearing African Rivers
Geologists recently projected a 10 percent to 20 percent drop in rainfall in northwestern and southern Africa by 2070. That would leave Botswana with just 23 percent of the river it has now; Cape Town would be left with just 42 percent of its river water. [National Geographic]
Suddenly Vanishing Lakes
What happened to the five-acre glacial lake in Southern Chile? In March, it was there. In May, it was ... gone. Scientists blame global warming. [BBC News]
Goodbye to the Mangrove Trees
Next on the global warming hit list: Rising sea levels linked to climate change mean we could lose half of the mangrove trees of the Pacific Isles by the end of the century. [UNEP]
Volcanoes Blow Their Tops
British scientists warn of another possible side effect of climate change: A surge of dangerous volcanic eruptions. [ABC News Australia]
More Hurricanes
Over the past century, the number of hurricanes that strike each year has more than doubled. Scientists blame global warming and the rising temperature of the surface of the seas. [USA Today]
More Floods
During the summer of 2007, Britain suffered its worst flood in 60 years. Scientists point the finger directly at global warming, which changed precipitation patterns and is now causing more “intense rainstorms across parts of the northern hemisphere.” [Independent]
More Fires
Hotter temperatures could also mean larger and more devastating wildfires. This past summer in California, a blaze consumed more than 33,500 acres, or 52 square miles.
[ABC] [AP]
More Wildfires
Global warming has also allowed non-native grasses to thrive in the Mojave Desert, where they act as fast-burning fuel for wildfires. [AP]
Thunderstorms Get Dangerous
Hurricanes aside, NASA scientists now say as the world gets hotter, even smaller thunderstorms will pose more severe risks with “deadly lightning, damaging hail and the potential for tornadoes.” [AP]
Higher Sea Levels
Scientists believe sea levels will be three feet higher by the end of the century than they are now. [National Geographic]
Burning Poo
As “shifting rainfall patterns” brought on by global warming “have made northern Senegal drier and hotter,” entire species of trees (like the Dimb Tree) are dying out, making it harder for natives to find firewood. As a result, more people are having to burn cow dung for cooking fires. [MSNBC]
A New Dust Bowl
Calling Mr. Steinbeck. Scientists this year reported the Southwest United States is "expected to dry up notably in this century and could become as arid as the North American dust bowl of the 1930s," a process which has already started. [ABC News]
Global Warming Makes Us Sicker
People Are Dying
150,000: Number of people the World Health Organization estimates are killed by climate-change-related issues every year. [Washington Post]
Heat Waves and Strokes
Authorities in China say warmer temperatures are responsible for an uptick in heat-wave associated deaths, such as strokes and heart disease. They calculated between 173 and 685 Chinese citizens per million die every year from ailments related to global warming. [MSNBC]
Death by Smog
Three words you really don’t want in your obit: “Death by Smog.” Yet Canadian doctors say smog-related deaths could rise by 80 percent over the next 20 years. And since warm air is a key ingredient in smog, warmer temperatures will increase smog levels. [CBC News]
More Heart Attacks
Doctors warn global warming will bring more cardiovascular problems, like heart attacks. “‘The hardening of the heart's arteries is like rust developing on a car,’ said Dr. Gordon Tomaselli, chief of cardiology at Johns Hopkins University. ‘Rust develops much more quickly at warm temperatures and so does atherosclerosis.’” [MSNBC]
More Mold and Ragweed = More Allergies, Asthma
A Harvard Study in 2004 showed higher concentrations of CO2 in the atmosphere is good news to allergens like mold and ragweed (they love the stuff). And that means higher rates of asthma attacks, especially in kids. [Globe and Mail]
A Resurgence In Deadly Disease
“The World Health Organization has identified more than 30 new or resurgent diseases in the last three decades, the sort of explosion some experts say has not happened since the Industrial Revolution brought masses of people together in cities.” Why? Global warming “is fueling the spread of epidemics in areas unprepared for the diseases” when “mosquitoes, ticks, mice and other carriers are surviving warmer winters and expanding their range, bringing health threats with them.” Ick. [Washington Post]
More Malaria in Africa
“A WHO report in 2000 found that warming had caused malaria to spread from three districts in western Kenya to 13 and led to epidemics of the disease in Rwanda and Tanzania.” [Washington Post]
Malaria Spreading in Western Europe
The World Health Organization warns warmer temperatures mean malaria-carrying mosquitoes are able to live in northern climes, which could lead to a surge in malaria outside the tropics (aka Europe). [BBC]
Malaria Spreading in South America
Thanks to global warming, “Malaria has spread to higher altitudes in places like the Colombian Andes, 7,000 feet above sea level.” [An Inconvenient Truth]
Malaria Spreading in Russia
Russians found larvae of the anopheles mosquito, the malaria carrier, for the first time in Moscow last September. [BBC]
Spread of Dengue Fever
Scientists predict warmer temperatures will allow mosquitoes carrying Dengue Fever to travel outside the tropics. Since people in cooler climes lack immunity from previous exposure, that means transmission would be extensive. You get a severe fever, you start spontaneously bleeding, you can die. There is no vaccine. [Science Daily]
Death in the Time of Cholera
Cholera, which thrives in warmer water, appeared in the newly warmed waters of South America in 1991 for the first time in the 20th century. “It swept from Peru across the continent and into Mexico, killing more than 10,000 people.” [Washington Post]
Spread of Lyme Disease
Cold weather no longer kills ticks that carry Lyme Disease. Ticks recently began spreading along the coastlines of Scandinavia, which formerly was too cold for them to survive. Cases of Lyme Disease in the area have doubled since the late 1990s. [MSNBC]
West Nile Virus Home Invasion
Once confined to land near the equator, West Nile Virus is now found as far north as Canada. Seven years ago, West Nile virus had never been seen in North America; today, it has “infected more than 21,000 people in the United States and Canada and killed more than 800.” [Washington Post]
Global Warming Threatens Our National Security
IISS: “A Global Catastrophe” For International Security
A recent study done by the International Institute for Strategic Studies has likened the international security effects of global warming to those caused by nuclear war. [On Deadline]
U.N.: As Dangerous As War
United Nations Secretary General Ban Ki-moon said this year that global warming poses as much of a threat to the world as war. [BBC]
Center for Naval Analyses: National Security Threat
In April, a report completed by the Center for Naval Analyses predicted that global warming would cause “large-scale migrations, increased border tensions, the spread of disease and conflicts over food and water.” [Seattle Post-Intelligencer]
Genocide in Sudan
UN Secretary General Ban Ki-moon charges, “Amid the diverse social and political causes, the Darfur conflict began as an ecological crisis, arising at least in part from climate change.” [Washington Post]
War in Somalia
In April, a group of 11 former U.S. military leaders released a report charging that the war in Somalia during the 1990s stemmed in part from national resource shortages caused by global warming. [Washington Post]
Starvation
A study by IISS found that reduced water supplies and hotter temperatures mean “65 countries were likely to lose over 15 percent of their agricultural output by 2100.” [Yahoo]
Large-Scale Migrations
Global warming will turn already-dry environments into deserts, causing the people who live there to migrate in massive numbers to more livable places. [MSNBC]
More Refugees
A study by the relief group Christian Aid estimates the number of refugees around the world will top a billion by 2050, thanks in large part to global warming. [Telegraph]
Increased Border Tensions
A report called “National Security and the Threat of Climate Change,” written by a group of retired generals and admirals, specifically linked global warming to increased border tensions. “If, as some project, sea levels rise, human migrations may occur, likely both within and across borders.” [NY Times]
Famine
“Developing countries, many with average temperatures that are already near or above crop tolerance levels, are predicted to suffer an average 10 to 25 percent decline in agricultural productivity by the 2080s.” [Economic Times]
Droughts
Global warming will cause longer, more devastating droughts, thus exacerbating the fight over the world’s water. [Washington Post]
The Poor Are Most at Risk
Although they produce low amounts of greenhouse gases, experts say under-developed countries—such as those in sub-Saharan Africa—have “the most to lose under dire predictions of wrenching change in weather patterns.” [Washington Post]
Your Checkbook
A report done last year by the British government showed global warming could cause a Global Great Depression, costing the world up to 20 percent of its annual Global Domestic Product. [Washington Post]
The World’s Checkbook
A study by the Global Development and Environment Institute at Tufts University found that ignoring global warming would end up costing $20 trillion by 2100. [Tufts]
This piece is from the Center for American Progress Action Fund's Mic Check Radio.
Statistics of the global warming trend
As the debate rages over global warming, it is important to understand what exactly is being debated. Nearly every scientist will support the fact that in the last 30 – 40 years, the Earth has gotten warmer. What continues to be debated, and rightfully so, is the reason for the warming trend. Are we seeing a natural trend or is the warming something anthropogenic (caused by humans). Below are the four primary data points that clearly show that warming is occurring.
Global Surface Temperature
Since about 1950, the Earth’s global surface temperature has risen by just more than .6 degrees Celsius or just over 1 degree Fahrenheit.

Arctic Sea Ice
Using data reported from the National Snow and Ice Data Center, we can track the decline of Arctic sea ice. The image below shows the month of September with the 1978 – 1981 averages on the left, and Arctic sea ice from September 2007 on the right, which produced the smallest area of Arctic sea ice to date. This equates to a decline of nearly 32% in the Arctic sea ice. While the sea ice area has since increased from the record low of 2007, the level remains far below the those recorded since 1979.

The image on the left shows the average ice cover at the end of the summers of 1979 – 1981. The image on the right shows the ice cover at the end of summer in 2007. Ref: http://www.nasa.gov/topics/earth/sea_ice_nsidc.html
Sea Level Rise
As we all know, when water warms it expands. Add this to water melting from glaciers and the arctic and you will see a measurable amount of sea level rise. While sea level rise by all accounts has been occurring for as long as we can tell, what is of particular interest is the rate of change that has been occurring. From 1870 to 1992, the average sea level rise has been 1.7 mm. As the chart below indicates, those rates have nearly doubled starting in 1993.

Carbon Dioxide Levels
Carbon dioxide (CO2) in our atmosphere has been around longer than mankind. As we all know, CO2 is part of a natural process involving plants and animals as well as volcanic eruptions. Manmade CO2 comes from the burning of fossil fuels used in energy plants, manufacturing plants and the various modes of transportation we use. The chart below shows the levels of CO2 measured in the Earth’s atmosphere over the past 400,000 years. Everything appears quite normal up until about 1950 where instead of following the cycle of upward and downward trends, the levels increased beyond any point in history and continued upward. April 2010 set yet another record of atmospheric CO2 at 392 ppm.

Now we have four factual indicators of warming. The issue is really with last one, the CO2. What is causing the increase in CO2? That is the center of the debate as to whether we are causing the rising CO2 levels or is nature doing this?
As we all know by now, CO2 comes from nature and from man. If the Earth warms, CO2 from nature increases as well. When there is less ice in the arctic regions, the Earth will absorb more of the Sun’s energy, which will create more warming since the oceans will release more CO2 . This cycle is known as a positive feedback. As permafrost regions on the Earth begin to melt, more greenhouse gases including methane which is known to have even a bigger impact on the greenhouse effect, are released from the soil that was once frozen, again this is positive feedback.
Scientists are tracking solar output from the sun to determine if changes in the sun’s output, known as solar irradiance, is a contributing factor to global warming and the subsequent climate change. These studies are important as they may help us understand the influence the sun’s energy has in creating the recent warming. While there has been no conclusive evidence to date, it merits closer observation and study.
So, what is causing CO2 levels to continue to rise? We know that we are definitely putting more CO2 into the atmosphere than we ever have. As countries like China and India go through their new found industrial growth, we continue to release more CO2, while it would make sense to point at these man made increases as the primary culprit, it is simply not that easy. Unfortunately regulating CO2 levels across the globe is a daunting task. What agency will monitor what countries and businesses are doing? In an already poor global economy, what is the cost of making these changes? Will the changes even have an impact on reducing CO2 levels? While we continue to debate, what will the cost be of doing nothing? Should we act now and wait for science to prove definitively that nature or man causing the global warming? Do we wait until we know for sure?
At this point, we have more questions than answers and anyone who says otherwise is doing so for reasons outside of getting to the scientific truth. We know the Earth is warming. The factual evidence cannot be disputed. If you had the power today to decide what path we should take, what would you choose? Do nothing until science has been proven, or begin a program that reduces the amounts of CO2 that man is putting into the atmosphere?
Global Surface Temperature
Since about 1950, the Earth’s global surface temperature has risen by just more than .6 degrees Celsius or just over 1 degree Fahrenheit.

Arctic Sea Ice
Using data reported from the National Snow and Ice Data Center, we can track the decline of Arctic sea ice. The image below shows the month of September with the 1978 – 1981 averages on the left, and Arctic sea ice from September 2007 on the right, which produced the smallest area of Arctic sea ice to date. This equates to a decline of nearly 32% in the Arctic sea ice. While the sea ice area has since increased from the record low of 2007, the level remains far below the those recorded since 1979.

The image on the left shows the average ice cover at the end of the summers of 1979 – 1981. The image on the right shows the ice cover at the end of summer in 2007. Ref: http://www.nasa.gov/topics/earth/sea_ice_nsidc.html
Sea Level Rise
As we all know, when water warms it expands. Add this to water melting from glaciers and the arctic and you will see a measurable amount of sea level rise. While sea level rise by all accounts has been occurring for as long as we can tell, what is of particular interest is the rate of change that has been occurring. From 1870 to 1992, the average sea level rise has been 1.7 mm. As the chart below indicates, those rates have nearly doubled starting in 1993.

Carbon Dioxide Levels
Carbon dioxide (CO2) in our atmosphere has been around longer than mankind. As we all know, CO2 is part of a natural process involving plants and animals as well as volcanic eruptions. Manmade CO2 comes from the burning of fossil fuels used in energy plants, manufacturing plants and the various modes of transportation we use. The chart below shows the levels of CO2 measured in the Earth’s atmosphere over the past 400,000 years. Everything appears quite normal up until about 1950 where instead of following the cycle of upward and downward trends, the levels increased beyond any point in history and continued upward. April 2010 set yet another record of atmospheric CO2 at 392 ppm.

Now we have four factual indicators of warming. The issue is really with last one, the CO2. What is causing the increase in CO2? That is the center of the debate as to whether we are causing the rising CO2 levels or is nature doing this?
As we all know by now, CO2 comes from nature and from man. If the Earth warms, CO2 from nature increases as well. When there is less ice in the arctic regions, the Earth will absorb more of the Sun’s energy, which will create more warming since the oceans will release more CO2 . This cycle is known as a positive feedback. As permafrost regions on the Earth begin to melt, more greenhouse gases including methane which is known to have even a bigger impact on the greenhouse effect, are released from the soil that was once frozen, again this is positive feedback.
Scientists are tracking solar output from the sun to determine if changes in the sun’s output, known as solar irradiance, is a contributing factor to global warming and the subsequent climate change. These studies are important as they may help us understand the influence the sun’s energy has in creating the recent warming. While there has been no conclusive evidence to date, it merits closer observation and study.
So, what is causing CO2 levels to continue to rise? We know that we are definitely putting more CO2 into the atmosphere than we ever have. As countries like China and India go through their new found industrial growth, we continue to release more CO2, while it would make sense to point at these man made increases as the primary culprit, it is simply not that easy. Unfortunately regulating CO2 levels across the globe is a daunting task. What agency will monitor what countries and businesses are doing? In an already poor global economy, what is the cost of making these changes? Will the changes even have an impact on reducing CO2 levels? While we continue to debate, what will the cost be of doing nothing? Should we act now and wait for science to prove definitively that nature or man causing the global warming? Do we wait until we know for sure?
At this point, we have more questions than answers and anyone who says otherwise is doing so for reasons outside of getting to the scientific truth. We know the Earth is warming. The factual evidence cannot be disputed. If you had the power today to decide what path we should take, what would you choose? Do nothing until science has been proven, or begin a program that reduces the amounts of CO2 that man is putting into the atmosphere?
10 Tips Sederhana Selamatkan Bumi
Tidak perlu ikut menjadi aktivis Greenpeace atau apapun itu demi menjadi seorang pecinta lingkungan.
Di saat pemanasan global kian menggila, polusi merajalela, cuaca tak beraturan seperti sekarang, memang selayaknya setiap orang menjadi pecinta lingkungan.
Bagaimana caranya? Mudah saja. Berikut LiveScience memberi 10 tips melindungi bumi dari kehancuran. Semuanya adalah cara-cara sederhana yang dapat kita mulai dari hari ini. Apa saja itu?
1. Gunakan bola lampu jenis flurosen alias Fluorescent Lights (CFLs).
Lampu ini memang lebih mahal ketimbang lampu bohlam biasa. Tapi daya tahannya 10 kali lipat lebih lama dan yang pasti lebih hemat energi. Ini bukan iklan. Studi membuktikan bila lampu CFL menyerap energi 75 persen lebih sedikit daripada nola lampu kuning terang benderang biasa. Dalam setahun CFL mampu mengurangi produksi karbon dioksida hingga 500 pon. Ini setara dengan polusi yang dihasilkan 17 mobil di jalan raya selama satu tahun!
2. Hemat listrik di rumah.
Petuah klasik yang tak pernah ketinggalan zaman. Justru kian lama petuah ini kian dibutuhkan realisasinya, bukan sekadar teori. Padamkan lampu di siang hari. Matikan AC saat ruangan tak dihuni. Asal tahu saja rata-rata setiap rumah menghasilkan emisi gas rumah kaca dua kali lipat dari yang diproduksi sebuah mobil. Jadi jangan karena tidak mengeluarkan asap hitam dari knalpot mobil Anda maka Anda sudah merasa sebagai pahlawan lingkungan.
3. Jangan Gunakan plastik.
Sebisa mungkin hindari pemakaian plastik. Tas plastik memang banyak dipakai pasar swalayan maupun tradisional dalam mengemas belanjaan. Ada baiknya kita membawa tas kain atau kertas sendiri dari rumah dan menolak dengan halus tas plastik dari penjual. Mengapa? Plastik bukan bahan yang dapat hancur dengan sendirinya di pembuangan sampah. Sejumlah kandungan dalam bahan tersebut justru merusak kesuburan hayati tanah.
4. Maksimalkan penggunaan komputer.
Memang di era kini sudah jarang orang berkirim surat melalui pos. Tapi jangan salah, masih banyak perkantoran maupun pribadi yang lebih suka menyimpan dokumen atau surat-surat secara tradisional, yakni dengan dicetak di atas kertas. Memang ada beberapa surat berharga yang tak bias tergantikan dengan surat elektronik. Namun selama sebuah dokumen dapat disimpan secara elektronik di komputer, usahakan lakukan itu. Asal tahu saja, kertas yang kita pakai telah sukses menggunduli hutan akibat perusahaan kertas telah menebang pohon-pohon sebagai bahan dasarnya.
5. Beli produk lokal.
Hentikan membeli produk pangan impor. Dengan mengonsumsi apa yang ada di dekat kita, maka kita berperan dalam mengurangi polusi dan pemborosan energi. Mengapa harus mengimpor daging sapi dari Australia jika sapi lokal tak kalah lezatnya. Bayangkan berapa energi dihasbiskan dan polusi dihasilkan dari sekadar mendatangkan sosis Eropa atau keju Belanda ke meja makan Anda. Sebagai informasi, anggur dari Napa Valley harus mengarungi jarak sejauh 2.143 mil demi berada di pasar swalayan Chicago .
6. Praktikan prinsip 3 R
Reduce, Reuse, Recycle. Kurangi konsumsi, gunakan kembali barang bekas yang masih bisa dimanfaatkan, dan daur ulang bahan tertentu. Mengucapkannya memang mudah, tapi tidak menjalankannya. Hanya sekali memulai, kita akan terbiasa.
7. Pelan-pelan singkirkan energi tak terbarukan.
Agak sulit memang jika tak didukung dengan ketersediaan produk dan infrastruktur. Tapi bukan berarti tak mungkin. Kalau ada pilihan dimana kita bias menikmati listrik dengan sumber sinar matahatri atau angin, mengapa tidak? Lebih bersih dan hemat energi.
8. Bunuh produk penghisap listrik
Tanpa disadari, kita terus menerus membeli dan mengngunakan produk yang menghamburkan energi. Televisi (TV) adalah salah satunya. Tanpa sadar sebuah keluarga kerap menyalakan TV tanpa henti 24 jam walau tidak ditonton. Begitu juga komputer, DVD player dan charger ponsel yang terus terhubung ke colokan listrik.
9. Kurangi pemakaian bahan kimia.
Bahan kimia bukanlah bahan alami. Seperti bahan buatan lainnya, bahan ini tak dapat lebur dengan sendirinya dan meninggalkan efek buruk pada kehidupan. Pestisida, obat nyamuk dan sejumlah bahan pembersih ruangan mengandung aneka komponen kimia yang tanpa sadar ikut kita hirup seumur hidup kita. Bahkan pangan sayur dan buah pun ikut membawanya ke dalam tubuh kita. Cara mengatasinya? Maksimalkan konsumsi bahan-bahan alami, termasuk sayuran organik.
10. Hijaukan rumah Anda!
Banyak di antara kita yang mengaku cinta lingkungan, cinta penghijauan, namun faktanya nyaris tak pernah menanam apapun di halaman rumahnya. Oke jika Anda tak punya halaman rumah. Setidaknya usahakan Anda memberi kesempatan bagi tumbuhan untuk hidup di sekitar. Tanaman gantung atau hidroponik cukup membantu bagi Anda yang tinggal di apartemen, rumah susun atau kos.
Tidak perlu ikut menjadi aktivis Greenpeace atau apapun itu demi menjadi seorang pecinta lingkungan.
Di saat pemanasan global kian menggila, polusi merajalela, cuaca tak beraturan seperti sekarang, memang selayaknya setiap orang menjadi pecinta lingkungan.
Bagaimana caranya? Mudah saja. Berikut LiveScience memberi 10 tips melindungi bumi dari kehancuran. Semuanya adalah cara-cara sederhana yang dapat kita mulai dari hari ini. Apa saja itu?
1. Gunakan bola lampu jenis flurosen alias Fluorescent Lights (CFLs).
Lampu ini memang lebih mahal ketimbang lampu bohlam biasa. Tapi daya tahannya 10 kali lipat lebih lama dan yang pasti lebih hemat energi. Ini bukan iklan. Studi membuktikan bila lampu CFL menyerap energi 75 persen lebih sedikit daripada nola lampu kuning terang benderang biasa. Dalam setahun CFL mampu mengurangi produksi karbon dioksida hingga 500 pon. Ini setara dengan polusi yang dihasilkan 17 mobil di jalan raya selama satu tahun!
2. Hemat listrik di rumah.
Petuah klasik yang tak pernah ketinggalan zaman. Justru kian lama petuah ini kian dibutuhkan realisasinya, bukan sekadar teori. Padamkan lampu di siang hari. Matikan AC saat ruangan tak dihuni. Asal tahu saja rata-rata setiap rumah menghasilkan emisi gas rumah kaca dua kali lipat dari yang diproduksi sebuah mobil. Jadi jangan karena tidak mengeluarkan asap hitam dari knalpot mobil Anda maka Anda sudah merasa sebagai pahlawan lingkungan.
3. Jangan Gunakan plastik.
Sebisa mungkin hindari pemakaian plastik. Tas plastik memang banyak dipakai pasar swalayan maupun tradisional dalam mengemas belanjaan. Ada baiknya kita membawa tas kain atau kertas sendiri dari rumah dan menolak dengan halus tas plastik dari penjual. Mengapa? Plastik bukan bahan yang dapat hancur dengan sendirinya di pembuangan sampah. Sejumlah kandungan dalam bahan tersebut justru merusak kesuburan hayati tanah.
4. Maksimalkan penggunaan komputer.
Memang di era kini sudah jarang orang berkirim surat melalui pos. Tapi jangan salah, masih banyak perkantoran maupun pribadi yang lebih suka menyimpan dokumen atau surat-surat secara tradisional, yakni dengan dicetak di atas kertas. Memang ada beberapa surat berharga yang tak bias tergantikan dengan surat elektronik. Namun selama sebuah dokumen dapat disimpan secara elektronik di komputer, usahakan lakukan itu. Asal tahu saja, kertas yang kita pakai telah sukses menggunduli hutan akibat perusahaan kertas telah menebang pohon-pohon sebagai bahan dasarnya.
5. Beli produk lokal.
Hentikan membeli produk pangan impor. Dengan mengonsumsi apa yang ada di dekat kita, maka kita berperan dalam mengurangi polusi dan pemborosan energi. Mengapa harus mengimpor daging sapi dari Australia jika sapi lokal tak kalah lezatnya. Bayangkan berapa energi dihasbiskan dan polusi dihasilkan dari sekadar mendatangkan sosis Eropa atau keju Belanda ke meja makan Anda. Sebagai informasi, anggur dari Napa Valley harus mengarungi jarak sejauh 2.143 mil demi berada di pasar swalayan Chicago .
6. Praktikan prinsip 3 R
Reduce, Reuse, Recycle. Kurangi konsumsi, gunakan kembali barang bekas yang masih bisa dimanfaatkan, dan daur ulang bahan tertentu. Mengucapkannya memang mudah, tapi tidak menjalankannya. Hanya sekali memulai, kita akan terbiasa.
7. Pelan-pelan singkirkan energi tak terbarukan.
Agak sulit memang jika tak didukung dengan ketersediaan produk dan infrastruktur. Tapi bukan berarti tak mungkin. Kalau ada pilihan dimana kita bias menikmati listrik dengan sumber sinar matahatri atau angin, mengapa tidak? Lebih bersih dan hemat energi.
8. Bunuh produk penghisap listrik
Tanpa disadari, kita terus menerus membeli dan mengngunakan produk yang menghamburkan energi. Televisi (TV) adalah salah satunya. Tanpa sadar sebuah keluarga kerap menyalakan TV tanpa henti 24 jam walau tidak ditonton. Begitu juga komputer, DVD player dan charger ponsel yang terus terhubung ke colokan listrik.
9. Kurangi pemakaian bahan kimia.
Bahan kimia bukanlah bahan alami. Seperti bahan buatan lainnya, bahan ini tak dapat lebur dengan sendirinya dan meninggalkan efek buruk pada kehidupan. Pestisida, obat nyamuk dan sejumlah bahan pembersih ruangan mengandung aneka komponen kimia yang tanpa sadar ikut kita hirup seumur hidup kita. Bahkan pangan sayur dan buah pun ikut membawanya ke dalam tubuh kita. Cara mengatasinya? Maksimalkan konsumsi bahan-bahan alami, termasuk sayuran organik.
10. Hijaukan rumah Anda!
Banyak di antara kita yang mengaku cinta lingkungan, cinta penghijauan, namun faktanya nyaris tak pernah menanam apapun di halaman rumahnya. Oke jika Anda tak punya halaman rumah. Setidaknya usahakan Anda memberi kesempatan bagi tumbuhan untuk hidup di sekitar. Tanaman gantung atau hidroponik cukup membantu bagi Anda yang tinggal di apartemen, rumah susun atau kos.
Senin, 12 Juli 2010
Betapa indahnya bumi ciptaan Allah
Betapa indahnya bumi ciptaan Allah
Bumi adalah planet ajaib. Keajaiban bukan saja dari potensi kehidupan yang ada di atasnya tetapi juga ajaib dari sisi komposisi penyusunnya. Betapa bersyukurnya kita ditempatkan di planet yang indah ini.
Gua Kristal Raksasa (Mexico)
Ditemukan jauh di dalam sebuah tambang di selatan Chihuahua Mexico, kristal-kristal ini terbentuk di sebuah gua yang seluruhnya tertutup karang batu. Sebuah geodesi penuh dengan kristal yang mengagumkan setinggi pohon cemara, dan pada beberapa tempat sekelilingnya kristal tersebut ada yang berwarna sebening emas dan perak dengan berbagai rupa dan bentuk yang luar biasa. Gua kristal raksasa ini ditemukan di antara badan batu kapur, daerah yang sama ditemukannya biji perak dan timah yang dieksploitasi oleh tambang dan kemungkinan dihasilkan dari pelarutan zat cair panas yang sama yang menyimpan logam dengan gips yang telah dikristalisasi selama tahap penyusutan dalam proses mineralisasi.
Ditemukan jauh di dalam sebuah tambang di selatan Chihuahua Mexico, kristal-kristal ini terbentuk di sebuah gua yang seluruhnya tertutup karang batu. Sebuah geodesi penuh dengan kristal yang mengagumkan setinggi pohon cemara, dan pada beberapa tempat sekelilingnya kristal tersebut ada yang berwarna sebening emas dan perak dengan berbagai rupa dan bentuk yang luar biasa. Gua kristal raksasa ini ditemukan di antara badan batu kapur, daerah yang sama ditemukannya biji perak dan timah yang dieksploitasi oleh tambang dan kemungkinan dihasilkan dari pelarutan zat cair panas yang sama yang menyimpan logam dengan gips yang telah dikristalisasi selama tahap penyusutan dalam proses mineralisasi.
The Wave (terletak diantara Arizona dan Utah, AS)
Pemandangan bebatuan lereng merah yang memukau di perbatasan Arizona dan Utah. The Wave berasal dari bukit pasir berusia 190 juta tahun yang telah berubah menjadi batu. Formasi yang jarang dikenal ini hanya dapat dicapai dengan berjalan kaki melalui perjalanan sejauh 3 batu dan tanpa hambatan.
The Wave
Lembah Antelope (Arizona, AS)
Merupakan jurang di Barat daya Amerika yang paling sering dikunjungi dan diabadikan gambarnya. Lembah Antelope ini bertempat di daratan Navojo dekat Page, Arizona. Ia meliputi 2 bagian lembah terpisah yang indah, masing-masing di sebut sebagai Jurang Antelope bagian atas – atau “The Crack” – dan Jurang Antelope bagian bawah–atau “The Corkscrew”.
Nama Navojo untuk Jurang Antelope adalah Tse’ bighanilini, yang berarti “tempat di mana air mengalir melewati batu”. Jurang Antelope bagian bawah adalah Hasdestwazi, atau “Monumen Batu Spiral”. Keduanya berlokasi di antara LeChee Chapter di Negara Navojo.
Merupakan jurang di Barat daya Amerika yang paling sering dikunjungi dan diabadikan gambarnya. Lembah Antelope ini bertempat di daratan Navojo dekat Page, Arizona. Ia meliputi 2 bagian lembah terpisah yang indah, masing-masing di sebut sebagai Jurang Antelope bagian atas – atau “The Crack” – dan Jurang Antelope bagian bawah–atau “The Corkscrew”.
Nama Navojo untuk Jurang Antelope adalah Tse’ bighanilini, yang berarti “tempat di mana air mengalir melewati batu”. Jurang Antelope bagian bawah adalah Hasdestwazi, atau “Monumen Batu Spiral”. Keduanya berlokasi di antara LeChee Chapter di Negara Navojo.
Gua Danau Biru (Brazil)
Wilayah Mato Grosso do Sul di Brazil (dan khususnya kota sunyi Bonito) membanggakan dengan banyak danau bawah tanah yang mengagumkan: Gruta do Lago Azul, Gruta do Mimoso, Aquario Natural. Yang terkenal di dunia “Gruta do Lago Azul” ( Gua Danau Biru ) adalah sebuah gua alam yang bagian dalamnya terbentuk dari stalaktit, stalakmit, dan terdapat sebuah danau biru yang besar dan mengagumkan. Keindahan dari danau ini benar-benar sesuatu yang mengesankan. Gua Danau Biru mempunyai keanekaragaman bentuk geologi yang besar tetapi yang paling utama berkesan adalah air berwarna biru tua yang berada di dalam danau.
Gua Danau Biru & Mata Sahara
Mata Sahara (Mauritania)
Daratan luas spektakuler di Mauritania, bagian barat-selatan gurun Sahara adalah sangat besar dengan diameter 30 mil yang dapat dilihat dari luar angkasa. Disebut struktur Richat – atau mata sahara – pada awalnya pembentukan ini diperkirakan disebabkan oleh tubrukan batu meteor, namun sekarang ahli geologi percaya itu adalah hasil dari peninggian tanah dan erosi. Penyebab dari bentuknya yang melingkar masih merupakan misteri.
Jalan Lintas Raksasa (Irlandia)
Sebuah daerah yang terdiri atas 40,000 batu vulkanis yang saling berhimpitan, Jalan Lintasan Raksasa adalah hasil dari ledakan lava vulkanik purba. Bertempat di timur-utara tepi laut Irlandia Utara, sebagian besar pilarnya berbentuk segienam, meskipun ada beberapa yang memiliki 4, 5, 7, dan 8 sisi. Yang tertinggi berukuran 12 meter, dan lava yang telah mengeras di tebing bukit setebal 28 meter. Dalam sebuah jajak pendapat 2005 oleh pembaca Radio Times, Jalan Lintasan ini dijuluki sebagai keajaiban alam terhebat keempat di Inggris Raya.
Lubang Biru Besar (Belize)
Bagian dari sistem batu menara api, Lubang Biru besar terletak kira-kira 60 mil dari daratan diluar Belize, Amerika Selatan. Lingkaran lubang besar yang hampir sempurna mempunyai jarak lintas kira-kira seperempat dari 1 mil (0.4 km), ia merupakan salah satu tempat terjun paling menakjubkan yang ditemukan di Bumi. Di dalam lubang ini, terdapat air berjarak 480 kaki (145 m) dan kedalaman air memberikan struktur berwarna biru tua yang menyebabkan dunia menyebutnya sebagai “Lubang Biru”.
Batu Ombak (Australia)
Batu Ombak adalah sebuah formasi batu alami yang berlokasi di Australia Barat. Nama tersebut diperoleh dari kenyataan bahwa ia berbentuk menyerupai ombak laut yang tinggi. Seluruh bagian permukaan menutupi beberapa hektar, bagian “ombak” dari batu itu sekitar 15 meter tingginya dan kira-kira 110 meter panjangnya. Satu aspek dari Batu Ombak yang jarang terlihat dalam foto adalah dinding penahan sekitar se-tengah ke atas dari batu. Susunannya mengikuti garis batas dan memperbolehkan air hujan ditampung di sebuah bendungan. Ia dibangun pada 1951 oleh Departemen Pekerjaan Umum, dan dinding seperti ini banyak dijumpai di banyak batu yang sama di daerah gandum.
Batu Ombak adalah sebuah formasi batu alami yang berlokasi di Australia Barat. Nama tersebut diperoleh dari kenyataan bahwa ia berbentuk menyerupai ombak laut yang tinggi. Seluruh bagian permukaan menutupi beberapa hektar, bagian “ombak” dari batu itu sekitar 15 meter tingginya dan kira-kira 110 meter panjangnya. Satu aspek dari Batu Ombak yang jarang terlihat dalam foto adalah dinding penahan sekitar se-tengah ke atas dari batu. Susunannya mengikuti garis batas dan memperbolehkan air hujan ditampung di sebuah bendungan. Ia dibangun pada 1951 oleh Departemen Pekerjaan Umum, dan dinding seperti ini banyak dijumpai di banyak batu yang sama di daerah gandum.
Terdiri dari sekitar 1,268 bukit berbentuk kerucut sempurna dengan ukuran hampir sama yang tersebar di area seluas lebih dari 50 km2. Merupakan formasi geologi yang sangat tak biasa, dinamakan Bukit Cokelat, berlokasi di Bohol, Filipina. Ada beberapa hipotesa yang berhubungan dengan formasi bukit. Meliputi kerusakan batu kapur yang sederhana, sub-lautan vulkanik, dorongan dari dasar laut dan teori yang baru-baru ini yang mempertahankan prinsip bahwa sebagai gunung berapi aktif penghancur-diri, ia memuntahkan balok batu besar yang kemudian muntahan ini terlapisi dengan batu kapur dan belakangan didorong maju dari dasar laut.
Senin, 28 Juni 2010
SELAMATKAN BUMI KITA
“Alam ini akan selalu mampu mencukupi kebutuhan makan bagi penghuninya, tetapi tidak mampu untuk mencukupi satu saja manusia yang rakus”
Mahatma Gandhi
Pengantar
Setiap tanggal 22 April 2008 kita memperingati hari Bumi, planet yang telah berusia kurang lebih 5.500.000.000 tahun. Hari Bumi ini di Indonesia sebenarnya tidak lazim diperingati sebelum tahun 1972, apalagi saat itu kekayaan alam kita masih sangat banyak dan kondisi lingkungan hidup kita masih jauh lebih baik, sehingga rasanya pada saat itu orang Indonesia masih “belum perlu” merasa khawatir untuk menyelamatkan bumi dan lingkungannya.
Gagasan hari bumi sendiri muncul dari seorang senator dari Amerika Serikat Gaylorfd Nelson yang menyaksikan betapa menurunnya kualitas lingkungan di bumi yang hanya satu-satunya tempat hidup manusia. Kerusakan yang juga disebabkan oleh ulah manusia itu sendiri sudah kian menjadi-jadi, sehingga setelah menyampaikan pidatonya di Seattle pada tahun 1969, Gaylorfd bersama dengan teman-teman LSM, 1500 perguruan tinggi, dan 10.000 sekolah, turun ke jalan untuk mengadakan aksi penyelamatan bumi dari kerusakan.
Segera setelah aksi tersebut berturut-turut terjadi pergerakan dalam upaya penyelamatan bumi mulai dari Konferensi Tingkat Tinggi Lingkungan Hidup pada tahun 1972 di Stockholm, konferensi tingkat dunia yang membicarakan lingkungan dunia global di Rio de Janeiro pada tahun 1992 yang menyepakati Forestry Principle yang menekankan pentingnya hutan bagi masa depan umat manusia.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah kita memiliki persetujuan yang mengikat secara hukum berkaitan dengan perlindungan lingkungan hidup untuk mengurangi emisi gas rumah kaca yaitu melalui Protocol Kyoto. Tetapi agar kesepakatan tersebut dapat dilaksanakan secara operasional, maka harus diratifikasi oleh 55 negara. Ratifikasi tersebut juga harus mencakup negara penghasil 55% emisi gas rumah kaca dunia, yang berarti bahwa negara-negara industri besar harus meratifikasinya. Pada saat itu hanya sedikit negara industri besar yang meratifikasinya, hingga terselenggaranya konferensi Global Warming baru-baru yang diadakan di Bali yang menghasilkan Bali Roadmap, hanya tinggal Amerika Serikat yang masih belum meratifikasinya.
Indonesia sebagai “Zamrud Katulistiwa”
Indonesia yang dikenal sebagai zamrud khatulistiwa adalah sebuah negara kepulauan yang terbentang antara Samudra Pasifik dan Samudra Hindia. Lebih dari 17.000 pulau telah tercatat, 6.000 di antaranya merupakan pulau berpenghuni. Indonesia juga diberkahi dengan lintasan khatulistiwanya di area Asia Tenggara. Luas total daratan mencapai 1.811.570 km2 dan 63 persen (1.134.330 km2) masih berupa hutan. Sementara itu luas total wilayah air adalah 317 juta hektare termasuk zona ekonomi eksklusif (ZEE) 473 ribu hektare. Penduduknya terdiri dari 600 kelompok etnik, diperkirakan jumlahnya telah mencapai 210 juta jiwa pada 2002, dengan hampir 80 persen tinggal di Pulau Jawa (Data BPS dan KLH). Kekayaan alamnya yang memiliki 25.000 hingga 30.000 spesies tumbuh-tumbuhan atau sekitar 10% dari jumlah total spesies tumbuhan yang ada di dunia, walaupun luas Indonesia hanya 1,3% dari permukaan bumi, saat ini lebih dari 590 spesies tumbuhan di Indonesia dalam resiko akan terancam punah atau telah punah.
Indonesia setidaknya mempunyai 47 ekosistem unik. Walaupun luasnya hanya 1,3 persen dari permukaan dunia, namun 17 persen dari spesies di dunia hidup di Indonesia, melebihi segala bentuk kehidupan dari seluruh Benua Afrika. Dalam hitungan persen, Indonesia setidaknya memiliki 11 persen dari spesies tanaman bunga dunia, 12 persen spesies mamalia dunia, 16 persen dari seluruh spesies amfibi dan reptil, 17 persen dari spesies buning dunia, dan 37 persen dari spesies ikan di dunia. Dalam hal jumlah, Indonesia mempunyai 515 spesies mamalia, peringkat pertama di dunia, dan 36 persen endemik. 122 spesies kupu-kupu, angka tertinggi di dunia, 44 persen endemik. Lebih dari 600 spesies reptil (peringkat ketiga di dunia), 153 spesies burung (28 persen endemik) dan lebih dari 270 spesies amfibi, merupakan peringkat lima besar dunia, serta 28.000 tanaman bunga, menduduki peringkat ketujuh dunia.
Dalam hal kelautan Indonesia menempati pusat Indo-pacific biogeographic kelautan dan posisinya yang strategis antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik sehingga tidak mengherankan jika sangat kaya akan variasi kelautan dan pesisirnya. Misalnya, hutan mangrove terbesar di Asia, padang lamun, dan hamparan terumbu karang. Indonesia mempunyai hutan mangrove seluas 3,8 juta hektare yana menempatkan Indonesia sebagai pemilik hutan mangrove terbesar di dunia. Disusul oleh Nigeria 3,24 juta hektare dan Australia 1,6 juta hektare. Hampir 2/3 dari perbatasan laut Indonesia ditutupi oleh terumbu karang yang diperkirakan mencapai 7.500 km2. Banyak kehidupan yang bergantung pada keberlangsungan eksistensi terumbu karang, seperti pemijahan ikan dan lebih dari 200 jenis ikan hias (Kementerian Negara Lingkungan Hidup dan Konphalindo, Atlas of Biodiversity in Indonesia. Jakarta. 1995)
Hal ini hanya untuk menunjukkan betapa Indonesia itu kaya akan potensi yang harus dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk rakyat Indonesia dengan konsep lestari dan berkeadilan. Kerusakan ekosistem dan lingkungan di Indonesia akan mempengaruhi dunia, karena potensi hal tersebut di atas. Akan tetapi Indonesia menerapkan kebijakan yang salah kaprah, dengan dukungan negara-negara industri besar dunia terjadi perusakan besar-besaran, sehingga berdampak pada diri sendiri dan dunia. Anehnya setelah rusak, kita yang dipersalahkan dan diminta harus menanggung beban tersebut.
Kerusakan Hutan Indonesia Awal Malapetaka
Kerusakan hutan merupakan awal dari siklus penurunan kualitas lingkungan hidup, karena hutan merupakan bagian terpenting dalam siklus ekologi. Kerusakan hutan di Indonesia sudah dalam tingkat yang membahayakan. Pemerintah daerah dengan adanya otonomi daerah berlomba-lomba mengeruk sumber daya hutannya untuk mencukupi kebutuhan dana pembangunan daerahnya, yang sering menguntungkan perseorangan atau kelompok elit daerah. Bahkan kadangkala tidak adanya rencana yang sesuai dengan kaidah-kaidah lingkungan hidup, kalaupun ada sering dilanggar, daerah-daerah yang “haram” untuk disentuh, seperti Taman Nasional, Hutan Lindung, dan sejenisnya, terpaksa harus dibabat atas nama kebutuhan “rakyat”. Jika perijinan sulit, maka jurus-jurus lama dikeluarkan melalui upaya tidak terpuji yang justru melibatkan aparat yang seharusnya bertugas menjaganya. Dengan prinsip “semakin banyak pihak yang terlibat, maka akan semakin aman dan lancar upaya ilegal loging dan pencurian kayu hutan”.
Akibatnya tercapailah prestasi terbesar pemerintah yaitu diraihnya predikat untuk Indonesia sebagai negara dengan laju kerusakan hutan (deforestasi) yang tercepat di dunia (Guinness Book of World Records – April 2007). Indonesia dinilai bertanggung jawab atas menciutnya kapasitas paru-paru dunia dan juga dituduh sebagai negara yang membiarkan berlangsungnya illegal loging dan pembakaran hutan untuk lahan perkebunan. Indonesia bersama Papua Nugini dan Brasil mengalami kerusakan hutan terparah sepanjang kurun 2000-2005. Menurut Badan Pangan Dunia (FAO), Indonesia menghancurkan kira-kira 51 kilometer persegi hutan setiap harinya, yang nilainya setara dengan hancurnya 300 lapangan bola setiap jam. Hal ini disebabkan oleh karena hutan alam Indonesia secara legal dieksploitasi di bawah kebijakan Hak Pengusahaan Hutan (HPH) dan Hutan Tanaman Industri (HTI). Kedua kebijakan ini membuka peluang eksploitasi hutan yang menguntungkan para taipan pemegang konsesi. Sistem HPH dan HTI sangat bertanggung jawab atas percepatan laju deforestasi di Indonesia.
Departemen Kehutanan mengeluarkan angka deforestasi Indonesia sepanjang tahun 1997-2000 sebesar 2.84 juta hektar per tahun, sedangkan sepanjang tahun 2000-2005 mencapai 1.8 juta hektar per tahun. Menurut Green Peace luas hutan Indonesia pada tahun 1950 berjumlah 162 juta hektar (84%), kemudian menjadi 119 juta hektar (64%) pada tahun 1985, dan terus menurun pada tahun 1997 menjadi 98 juta hektar (50%), hingga kini (2005) tersisa 85 juta hektar (43%). Menurut GreenPeace, dalam separuh abad terakhir Indonesia telah kehilangan separuh dari hutannya, sehingga yang tersisa adalah 55 juta hektar, tetapi Departemen Kehutanan mencatat luas hutan Indonesia 133.57 juta hektar. Dari luas hutan tersebut jumlah hutan Papua yang masih tersisa seluas 40.546.360 hektar. Hutan gambut di Indonesia yang mencapai 22,5 juta hektar dan di Riau menyimpan hampir separuhnya, sebentar lagi sudah tinggal kenangan. Padahal dengan dilakukannya konversi hutan gambut tersebut berakibat dilepaskannya 1.100 juta ton Co2 (Karbondioksida) per tahun ke atmosfir Indonesia, yang menjadi biang keladi “Green House Effect” (Cifor, 2007).
Belum lagi di sektor kelautan, sektor dalam bidang kelautan yang paling parah mengalami kerusakan adalah hutan mangrove dan terumbu karang, akibat dari sistem pertanian dan pertambakan yang tidak terencana dan terkontrol. Diperkirakan hanya tinggal 60 persen hutan mangrove kita masih dalam kondisi baik, namun pada saat yang sama lebih dan 840.000 hektare hutan mangrove akan diubah menjadi lahan pertambakan. Terumbu karang yang merupakan habitat kehidupan laut juga mengalami ancaman hebat. Terutama dari praktik penangkapan ikan yang destruktif, yaitu dengan pemboman ataupun pemakaian racun. Sektor pariwisata juga mengancam kehidupan terumbu karang dengan pemakaian terumbu karang sebagai pondasi dari cottage yang dibangun untuk kepentingan industri pariwisata.
Jadi berdasarkan Laporan Status Lingkungan Hidup tahun 2006 dapat diambil kesimpulan bahwa kerusakan alam kita sudah sangat parah, mulai dari air, udara, dan lahan atau hutan. Ketersediaan air bersih cenderung menurun sebesar 15-35 % per kapita per tahun, karena kerusakan lingkungan di daerah tangkapan air, sehingga saat hujan tidak banyak air yang meresap ke dalam tanah, dan sebagian lagi mengalir menjadi aliran permukaan yang mengakibatkan banjir, sebaliknya di musim kemarau, ancaman kekeringan semakin besar karena kurangnya ketersediaan air. Terjadinya penurunan kualitas air karena masuknya bahan pencemar air dari limbah industri, air limbah domestik maupun sampah. Terjadi pula penurunan kualitas udara yang sangat seius, khususnya di kota-kota besar akibat emisi yang masuk ke udara ambient melebihi daya dukung lingkungan. Kondisi sumberdaya lahan dan hutan kita ditandai dengan kerusakan lahan dan hutan mencapai 59.2 juta ha dengan laju deforestasi mencapai 1.19 juta ha per tahun.
Dampak Investasi Asing Pada Kerusakan Lingkungan
Investasi asing turut juga menyumbangkan kerusakan bumi Indonesia. Selain merugikan karena hasil bumi kita dikeruk hanya untuk kepentingan bangsa asing dan sedikit dari elite kekuasaan, juga akibat jangka panjang untuk generasi selanjutnya adalah kerusakan lingkungan. Kerusakan lingkungan ini secara luas dan masif sudah terjadi sejak tiga dekade terakhir. Ditandai dengan kelahiran tiga paket UU yang membuka peluang eksploitasi sumber daya alam Indonesia secara masif, yaitu UU Kehutanan 1967, UU Pertambangan 1967, dan UU Penanaman Modal Dalam dan Luar Negeri 1967. Akibatnya terjadi dampak yang mengerikan yaitu banyak investor asing yang masuk ke Indonesia yang mengeksploitasi sumberdaya alam Indonesia tanpa aturan perlindungan lingkungan dan kesadaran lingkungan yang belum berkembang seperti sekarang, sehingga mereka beroperasi tanpa dibebani kewajiban sosial dan lingkungan. Bahkan, oposisi dari masyarakat baru muncul pada tahun 1980-an berupa protes masyarakat atas rusaknya lingkungan mereka akibat aktivitas pertambangan. Sebut saja Suku Amungme dan Komoro di Papua Barat yang bersengketa dengan Freeport mengenai lahan mereka; perusahan minyak Mobil Oil di Aceh, dan tambang Newmont di Sulawesi Utara.
Pada era pemerintahan Bung Karno, dengan tegas beliau menolak meminta pinjaman untuk pembangunan atau membuka lebar-lebar pintu investasi asing. Padahal ketika itu tahun 1945, dimana Indonesia baru saja memproklamirkan kemerdekaannya. Bung Karno pada saat itu bahkan ingin agar Indonesia dibangun sendiri oleh pemuda-pemudi terampil yang telah berhasil menempa ilmu baik di dalam dan di luar negeri. Tetapi bukan berarti bahwa Bung Karno anti modal asing. Hal ini tercermin ketika Megawati Soekarnoputri yang saat itu berusia 16 tahun bertanya padanya perihal mengapa Bung Karno tidak segera bertindak untuk mengelola sumber daya alam Indonesia, padahal saat itu istana selalu ramai dikunjungi investor asing yang minta kepada Bung Karno supaya dibolehkan mengeksplorasi dan mengeksploitasi minyak dan sumber daya mineral lainnya. Bung Karno selalu menolak kecuali untuk hal-hal yang sangat urgent dan minimal sekali dalam pemenuhan kebutuhan yang mendesak. Bung Karno menjelaskan kepada Megawati : “Nanti Dis (nama panggilan Mega), kita tunggu sampai kita mempunyai insinyur-insinyur sendiri !”.
Bung Karno ingin menggarap sumber daya mineral yang ada di bumi Indonesia oleh insinyur-insinyur Indonesia sendiri yang sedang disiapkannya. Bung Karno lebih mencintai bangsanya tanpa merugikan orang lain dan memimpikan bangkitnya perusahaan-perusahaan minyak Indonesia seperti Shell, Exxon Mobil, Chevron, Total dan sebagainya. Dalam era Presiden Soekarno utang luar negeri kita hanya sebesar US$ 2 miliar. Sumber daya alam kita praktis utuh. Tetapi memang kondisi ekonomi kita hancur pada saat itu, bahkan inflasi mencapai 600%. Terlantarnya ekonomi dan tidak adanya perhatian terhadap pembangunan ekonomi bukan berarti Bung Karno tidak mengerti ekonomi. Bung Karno tidak mengundang modal asing secara besar-besaran, dan tidak mempersilakan akhli-akhli asing mengendalikan Indonesia, karena Bung Karno mengerti betul konsekuensi jika politik kita tidak berdaulat dan ekonomi kita tidak mandiri. Bung Karno terfokus untuk menggembleng bangsa Indonesia menjadi satu nation yang diikat dengan Tunggal Eka dalam Kebhinekaannya membutuhkan waktu dan prioritas tinggi, sehingga pembangunan ekonominya tidak terlampau tertangani. Selain itu dalam periode tersebut terjadi banyak gangguan seperti pemberontakan DI/TII, RMS, PRRI/Permesta, dan rongrongan dari kekuatan-kekuatan geopolitik.
Setelah Soekarno tumbang oleh kekuatan asing (Amerika), penggantinya Soeharto dengan triumviratnya yaitu Adam Malik dan Hamengkubowono IX, di Genewa bersepakat dengan para kapitalis besar Amerika membagi kekayaan alam Indonesia kepada penguasa modal besar Amerika Serikat tersebut. Papua, Sulawesi, Jawa, dan Sumatera dibagi habis. Sehingga ketika Soeharto berkuasa, segera dibukalah selebar lebarnya pintu investasi asing melalui UU No.1 tahun 1967 tentang Penanaman Modal Dalam dan Luar Negeri, yang hingga saat ini tidak ada upaya untuk mengambil alih kembali perusahaan tersebut, walaupun insinyur, PhD, dan Professor kita sudah menumpuk. Freeport masih bercokol di Papua, Newmont di Sulawesi, dan Exxon/Caltex di Jawa dan Sumatera. Apakah tenaga ahli kita tidak mampu? Bohong besar… Kekuatan KKN birokrat dan pengusaha asinglah yang mengatur semuanya agar kepentingan penanaman modal negaranya di Indonesia tetap dipertahankan. Biarlah kekayaan alamnya dikeruk mereka dan rakyat Indonesia yang menanggung kerusakan alamnya. Puluhan universitas ternama telah bertahun-tahun mencetak sangat banyak insinyur pertambangan, dan di antaranya banyak yang bergelar Ph.D dan Profesor. Namun 92% dari minyak kita tetap dieksploitasi oleh perusahaan-perusahaan asing hingga saat ini. Pertamina hanya mengeksploitasi 8% saja. Formula kontrak bagi hasil mengatakan 85% untuk Indonesia dan 15% untuk perusahaan minyak asing. Namun kenyataan sampai sekarang, 40% dinikmati oleh perusahaan-perusahaan asing dan 60% oleh bangsa Indonesia. Asing tidak memperoleh 15% sesuai dengan kontrak, karena di dalam kontrak itu ada ketentuan bahwa biaya eksplorasi harus dibayar terlebih dahulu sampai habis (tetapi hingga kini tidak habis habis). Yang tersisa untuk kita adalah kerusakan hutan dan lingkungan.
Mahatma Gandhi
Pengantar
Setiap tanggal 22 April 2008 kita memperingati hari Bumi, planet yang telah berusia kurang lebih 5.500.000.000 tahun. Hari Bumi ini di Indonesia sebenarnya tidak lazim diperingati sebelum tahun 1972, apalagi saat itu kekayaan alam kita masih sangat banyak dan kondisi lingkungan hidup kita masih jauh lebih baik, sehingga rasanya pada saat itu orang Indonesia masih “belum perlu” merasa khawatir untuk menyelamatkan bumi dan lingkungannya.
Gagasan hari bumi sendiri muncul dari seorang senator dari Amerika Serikat Gaylorfd Nelson yang menyaksikan betapa menurunnya kualitas lingkungan di bumi yang hanya satu-satunya tempat hidup manusia. Kerusakan yang juga disebabkan oleh ulah manusia itu sendiri sudah kian menjadi-jadi, sehingga setelah menyampaikan pidatonya di Seattle pada tahun 1969, Gaylorfd bersama dengan teman-teman LSM, 1500 perguruan tinggi, dan 10.000 sekolah, turun ke jalan untuk mengadakan aksi penyelamatan bumi dari kerusakan.
Segera setelah aksi tersebut berturut-turut terjadi pergerakan dalam upaya penyelamatan bumi mulai dari Konferensi Tingkat Tinggi Lingkungan Hidup pada tahun 1972 di Stockholm, konferensi tingkat dunia yang membicarakan lingkungan dunia global di Rio de Janeiro pada tahun 1992 yang menyepakati Forestry Principle yang menekankan pentingnya hutan bagi masa depan umat manusia.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah kita memiliki persetujuan yang mengikat secara hukum berkaitan dengan perlindungan lingkungan hidup untuk mengurangi emisi gas rumah kaca yaitu melalui Protocol Kyoto. Tetapi agar kesepakatan tersebut dapat dilaksanakan secara operasional, maka harus diratifikasi oleh 55 negara. Ratifikasi tersebut juga harus mencakup negara penghasil 55% emisi gas rumah kaca dunia, yang berarti bahwa negara-negara industri besar harus meratifikasinya. Pada saat itu hanya sedikit negara industri besar yang meratifikasinya, hingga terselenggaranya konferensi Global Warming baru-baru yang diadakan di Bali yang menghasilkan Bali Roadmap, hanya tinggal Amerika Serikat yang masih belum meratifikasinya.
Indonesia sebagai “Zamrud Katulistiwa”
Indonesia yang dikenal sebagai zamrud khatulistiwa adalah sebuah negara kepulauan yang terbentang antara Samudra Pasifik dan Samudra Hindia. Lebih dari 17.000 pulau telah tercatat, 6.000 di antaranya merupakan pulau berpenghuni. Indonesia juga diberkahi dengan lintasan khatulistiwanya di area Asia Tenggara. Luas total daratan mencapai 1.811.570 km2 dan 63 persen (1.134.330 km2) masih berupa hutan. Sementara itu luas total wilayah air adalah 317 juta hektare termasuk zona ekonomi eksklusif (ZEE) 473 ribu hektare. Penduduknya terdiri dari 600 kelompok etnik, diperkirakan jumlahnya telah mencapai 210 juta jiwa pada 2002, dengan hampir 80 persen tinggal di Pulau Jawa (Data BPS dan KLH). Kekayaan alamnya yang memiliki 25.000 hingga 30.000 spesies tumbuh-tumbuhan atau sekitar 10% dari jumlah total spesies tumbuhan yang ada di dunia, walaupun luas Indonesia hanya 1,3% dari permukaan bumi, saat ini lebih dari 590 spesies tumbuhan di Indonesia dalam resiko akan terancam punah atau telah punah.
Indonesia setidaknya mempunyai 47 ekosistem unik. Walaupun luasnya hanya 1,3 persen dari permukaan dunia, namun 17 persen dari spesies di dunia hidup di Indonesia, melebihi segala bentuk kehidupan dari seluruh Benua Afrika. Dalam hitungan persen, Indonesia setidaknya memiliki 11 persen dari spesies tanaman bunga dunia, 12 persen spesies mamalia dunia, 16 persen dari seluruh spesies amfibi dan reptil, 17 persen dari spesies buning dunia, dan 37 persen dari spesies ikan di dunia. Dalam hal jumlah, Indonesia mempunyai 515 spesies mamalia, peringkat pertama di dunia, dan 36 persen endemik. 122 spesies kupu-kupu, angka tertinggi di dunia, 44 persen endemik. Lebih dari 600 spesies reptil (peringkat ketiga di dunia), 153 spesies burung (28 persen endemik) dan lebih dari 270 spesies amfibi, merupakan peringkat lima besar dunia, serta 28.000 tanaman bunga, menduduki peringkat ketujuh dunia.
Dalam hal kelautan Indonesia menempati pusat Indo-pacific biogeographic kelautan dan posisinya yang strategis antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik sehingga tidak mengherankan jika sangat kaya akan variasi kelautan dan pesisirnya. Misalnya, hutan mangrove terbesar di Asia, padang lamun, dan hamparan terumbu karang. Indonesia mempunyai hutan mangrove seluas 3,8 juta hektare yana menempatkan Indonesia sebagai pemilik hutan mangrove terbesar di dunia. Disusul oleh Nigeria 3,24 juta hektare dan Australia 1,6 juta hektare. Hampir 2/3 dari perbatasan laut Indonesia ditutupi oleh terumbu karang yang diperkirakan mencapai 7.500 km2. Banyak kehidupan yang bergantung pada keberlangsungan eksistensi terumbu karang, seperti pemijahan ikan dan lebih dari 200 jenis ikan hias (Kementerian Negara Lingkungan Hidup dan Konphalindo, Atlas of Biodiversity in Indonesia. Jakarta. 1995)
Hal ini hanya untuk menunjukkan betapa Indonesia itu kaya akan potensi yang harus dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk rakyat Indonesia dengan konsep lestari dan berkeadilan. Kerusakan ekosistem dan lingkungan di Indonesia akan mempengaruhi dunia, karena potensi hal tersebut di atas. Akan tetapi Indonesia menerapkan kebijakan yang salah kaprah, dengan dukungan negara-negara industri besar dunia terjadi perusakan besar-besaran, sehingga berdampak pada diri sendiri dan dunia. Anehnya setelah rusak, kita yang dipersalahkan dan diminta harus menanggung beban tersebut.
Kerusakan Hutan Indonesia Awal Malapetaka
Kerusakan hutan merupakan awal dari siklus penurunan kualitas lingkungan hidup, karena hutan merupakan bagian terpenting dalam siklus ekologi. Kerusakan hutan di Indonesia sudah dalam tingkat yang membahayakan. Pemerintah daerah dengan adanya otonomi daerah berlomba-lomba mengeruk sumber daya hutannya untuk mencukupi kebutuhan dana pembangunan daerahnya, yang sering menguntungkan perseorangan atau kelompok elit daerah. Bahkan kadangkala tidak adanya rencana yang sesuai dengan kaidah-kaidah lingkungan hidup, kalaupun ada sering dilanggar, daerah-daerah yang “haram” untuk disentuh, seperti Taman Nasional, Hutan Lindung, dan sejenisnya, terpaksa harus dibabat atas nama kebutuhan “rakyat”. Jika perijinan sulit, maka jurus-jurus lama dikeluarkan melalui upaya tidak terpuji yang justru melibatkan aparat yang seharusnya bertugas menjaganya. Dengan prinsip “semakin banyak pihak yang terlibat, maka akan semakin aman dan lancar upaya ilegal loging dan pencurian kayu hutan”.
Akibatnya tercapailah prestasi terbesar pemerintah yaitu diraihnya predikat untuk Indonesia sebagai negara dengan laju kerusakan hutan (deforestasi) yang tercepat di dunia (Guinness Book of World Records – April 2007). Indonesia dinilai bertanggung jawab atas menciutnya kapasitas paru-paru dunia dan juga dituduh sebagai negara yang membiarkan berlangsungnya illegal loging dan pembakaran hutan untuk lahan perkebunan. Indonesia bersama Papua Nugini dan Brasil mengalami kerusakan hutan terparah sepanjang kurun 2000-2005. Menurut Badan Pangan Dunia (FAO), Indonesia menghancurkan kira-kira 51 kilometer persegi hutan setiap harinya, yang nilainya setara dengan hancurnya 300 lapangan bola setiap jam. Hal ini disebabkan oleh karena hutan alam Indonesia secara legal dieksploitasi di bawah kebijakan Hak Pengusahaan Hutan (HPH) dan Hutan Tanaman Industri (HTI). Kedua kebijakan ini membuka peluang eksploitasi hutan yang menguntungkan para taipan pemegang konsesi. Sistem HPH dan HTI sangat bertanggung jawab atas percepatan laju deforestasi di Indonesia.
Departemen Kehutanan mengeluarkan angka deforestasi Indonesia sepanjang tahun 1997-2000 sebesar 2.84 juta hektar per tahun, sedangkan sepanjang tahun 2000-2005 mencapai 1.8 juta hektar per tahun. Menurut Green Peace luas hutan Indonesia pada tahun 1950 berjumlah 162 juta hektar (84%), kemudian menjadi 119 juta hektar (64%) pada tahun 1985, dan terus menurun pada tahun 1997 menjadi 98 juta hektar (50%), hingga kini (2005) tersisa 85 juta hektar (43%). Menurut GreenPeace, dalam separuh abad terakhir Indonesia telah kehilangan separuh dari hutannya, sehingga yang tersisa adalah 55 juta hektar, tetapi Departemen Kehutanan mencatat luas hutan Indonesia 133.57 juta hektar. Dari luas hutan tersebut jumlah hutan Papua yang masih tersisa seluas 40.546.360 hektar. Hutan gambut di Indonesia yang mencapai 22,5 juta hektar dan di Riau menyimpan hampir separuhnya, sebentar lagi sudah tinggal kenangan. Padahal dengan dilakukannya konversi hutan gambut tersebut berakibat dilepaskannya 1.100 juta ton Co2 (Karbondioksida) per tahun ke atmosfir Indonesia, yang menjadi biang keladi “Green House Effect” (Cifor, 2007).
Belum lagi di sektor kelautan, sektor dalam bidang kelautan yang paling parah mengalami kerusakan adalah hutan mangrove dan terumbu karang, akibat dari sistem pertanian dan pertambakan yang tidak terencana dan terkontrol. Diperkirakan hanya tinggal 60 persen hutan mangrove kita masih dalam kondisi baik, namun pada saat yang sama lebih dan 840.000 hektare hutan mangrove akan diubah menjadi lahan pertambakan. Terumbu karang yang merupakan habitat kehidupan laut juga mengalami ancaman hebat. Terutama dari praktik penangkapan ikan yang destruktif, yaitu dengan pemboman ataupun pemakaian racun. Sektor pariwisata juga mengancam kehidupan terumbu karang dengan pemakaian terumbu karang sebagai pondasi dari cottage yang dibangun untuk kepentingan industri pariwisata.
Jadi berdasarkan Laporan Status Lingkungan Hidup tahun 2006 dapat diambil kesimpulan bahwa kerusakan alam kita sudah sangat parah, mulai dari air, udara, dan lahan atau hutan. Ketersediaan air bersih cenderung menurun sebesar 15-35 % per kapita per tahun, karena kerusakan lingkungan di daerah tangkapan air, sehingga saat hujan tidak banyak air yang meresap ke dalam tanah, dan sebagian lagi mengalir menjadi aliran permukaan yang mengakibatkan banjir, sebaliknya di musim kemarau, ancaman kekeringan semakin besar karena kurangnya ketersediaan air. Terjadinya penurunan kualitas air karena masuknya bahan pencemar air dari limbah industri, air limbah domestik maupun sampah. Terjadi pula penurunan kualitas udara yang sangat seius, khususnya di kota-kota besar akibat emisi yang masuk ke udara ambient melebihi daya dukung lingkungan. Kondisi sumberdaya lahan dan hutan kita ditandai dengan kerusakan lahan dan hutan mencapai 59.2 juta ha dengan laju deforestasi mencapai 1.19 juta ha per tahun.
Dampak Investasi Asing Pada Kerusakan Lingkungan
Investasi asing turut juga menyumbangkan kerusakan bumi Indonesia. Selain merugikan karena hasil bumi kita dikeruk hanya untuk kepentingan bangsa asing dan sedikit dari elite kekuasaan, juga akibat jangka panjang untuk generasi selanjutnya adalah kerusakan lingkungan. Kerusakan lingkungan ini secara luas dan masif sudah terjadi sejak tiga dekade terakhir. Ditandai dengan kelahiran tiga paket UU yang membuka peluang eksploitasi sumber daya alam Indonesia secara masif, yaitu UU Kehutanan 1967, UU Pertambangan 1967, dan UU Penanaman Modal Dalam dan Luar Negeri 1967. Akibatnya terjadi dampak yang mengerikan yaitu banyak investor asing yang masuk ke Indonesia yang mengeksploitasi sumberdaya alam Indonesia tanpa aturan perlindungan lingkungan dan kesadaran lingkungan yang belum berkembang seperti sekarang, sehingga mereka beroperasi tanpa dibebani kewajiban sosial dan lingkungan. Bahkan, oposisi dari masyarakat baru muncul pada tahun 1980-an berupa protes masyarakat atas rusaknya lingkungan mereka akibat aktivitas pertambangan. Sebut saja Suku Amungme dan Komoro di Papua Barat yang bersengketa dengan Freeport mengenai lahan mereka; perusahan minyak Mobil Oil di Aceh, dan tambang Newmont di Sulawesi Utara.
Pada era pemerintahan Bung Karno, dengan tegas beliau menolak meminta pinjaman untuk pembangunan atau membuka lebar-lebar pintu investasi asing. Padahal ketika itu tahun 1945, dimana Indonesia baru saja memproklamirkan kemerdekaannya. Bung Karno pada saat itu bahkan ingin agar Indonesia dibangun sendiri oleh pemuda-pemudi terampil yang telah berhasil menempa ilmu baik di dalam dan di luar negeri. Tetapi bukan berarti bahwa Bung Karno anti modal asing. Hal ini tercermin ketika Megawati Soekarnoputri yang saat itu berusia 16 tahun bertanya padanya perihal mengapa Bung Karno tidak segera bertindak untuk mengelola sumber daya alam Indonesia, padahal saat itu istana selalu ramai dikunjungi investor asing yang minta kepada Bung Karno supaya dibolehkan mengeksplorasi dan mengeksploitasi minyak dan sumber daya mineral lainnya. Bung Karno selalu menolak kecuali untuk hal-hal yang sangat urgent dan minimal sekali dalam pemenuhan kebutuhan yang mendesak. Bung Karno menjelaskan kepada Megawati : “Nanti Dis (nama panggilan Mega), kita tunggu sampai kita mempunyai insinyur-insinyur sendiri !”.
Bung Karno ingin menggarap sumber daya mineral yang ada di bumi Indonesia oleh insinyur-insinyur Indonesia sendiri yang sedang disiapkannya. Bung Karno lebih mencintai bangsanya tanpa merugikan orang lain dan memimpikan bangkitnya perusahaan-perusahaan minyak Indonesia seperti Shell, Exxon Mobil, Chevron, Total dan sebagainya. Dalam era Presiden Soekarno utang luar negeri kita hanya sebesar US$ 2 miliar. Sumber daya alam kita praktis utuh. Tetapi memang kondisi ekonomi kita hancur pada saat itu, bahkan inflasi mencapai 600%. Terlantarnya ekonomi dan tidak adanya perhatian terhadap pembangunan ekonomi bukan berarti Bung Karno tidak mengerti ekonomi. Bung Karno tidak mengundang modal asing secara besar-besaran, dan tidak mempersilakan akhli-akhli asing mengendalikan Indonesia, karena Bung Karno mengerti betul konsekuensi jika politik kita tidak berdaulat dan ekonomi kita tidak mandiri. Bung Karno terfokus untuk menggembleng bangsa Indonesia menjadi satu nation yang diikat dengan Tunggal Eka dalam Kebhinekaannya membutuhkan waktu dan prioritas tinggi, sehingga pembangunan ekonominya tidak terlampau tertangani. Selain itu dalam periode tersebut terjadi banyak gangguan seperti pemberontakan DI/TII, RMS, PRRI/Permesta, dan rongrongan dari kekuatan-kekuatan geopolitik.
Setelah Soekarno tumbang oleh kekuatan asing (Amerika), penggantinya Soeharto dengan triumviratnya yaitu Adam Malik dan Hamengkubowono IX, di Genewa bersepakat dengan para kapitalis besar Amerika membagi kekayaan alam Indonesia kepada penguasa modal besar Amerika Serikat tersebut. Papua, Sulawesi, Jawa, dan Sumatera dibagi habis. Sehingga ketika Soeharto berkuasa, segera dibukalah selebar lebarnya pintu investasi asing melalui UU No.1 tahun 1967 tentang Penanaman Modal Dalam dan Luar Negeri, yang hingga saat ini tidak ada upaya untuk mengambil alih kembali perusahaan tersebut, walaupun insinyur, PhD, dan Professor kita sudah menumpuk. Freeport masih bercokol di Papua, Newmont di Sulawesi, dan Exxon/Caltex di Jawa dan Sumatera. Apakah tenaga ahli kita tidak mampu? Bohong besar… Kekuatan KKN birokrat dan pengusaha asinglah yang mengatur semuanya agar kepentingan penanaman modal negaranya di Indonesia tetap dipertahankan. Biarlah kekayaan alamnya dikeruk mereka dan rakyat Indonesia yang menanggung kerusakan alamnya. Puluhan universitas ternama telah bertahun-tahun mencetak sangat banyak insinyur pertambangan, dan di antaranya banyak yang bergelar Ph.D dan Profesor. Namun 92% dari minyak kita tetap dieksploitasi oleh perusahaan-perusahaan asing hingga saat ini. Pertamina hanya mengeksploitasi 8% saja. Formula kontrak bagi hasil mengatakan 85% untuk Indonesia dan 15% untuk perusahaan minyak asing. Namun kenyataan sampai sekarang, 40% dinikmati oleh perusahaan-perusahaan asing dan 60% oleh bangsa Indonesia. Asing tidak memperoleh 15% sesuai dengan kontrak, karena di dalam kontrak itu ada ketentuan bahwa biaya eksplorasi harus dibayar terlebih dahulu sampai habis (tetapi hingga kini tidak habis habis). Yang tersisa untuk kita adalah kerusakan hutan dan lingkungan.
Langganan:
Postingan (Atom)







